Selasa, 24 Jul 2018 17:00 WIB

Komentar Ahli Pangan Soal Jajanan 'Tidak Untuk Anak di Bawah 5 Tahun'

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Beredar sejumlah foto jajanan yang tertulis disarankan tidak dikonsumsi untuk anak di bawah 5 tahun. Foto: thinkstock Beredar sejumlah foto jajanan yang tertulis 'disarankan tidak dikonsumsi untuk anak di bawah 5 tahun'. Foto: thinkstock
Jakarta - Beredar sejumlah foto jajanan yang tertulis 'disarankan tidak dikonsumsi untuk anak di bawah 5 tahun' dengan ukuran kecil yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Kepada detikHealth, sejumlah ahli pangan pun mencoba menjelaskan mengapa muncul tulisan tersebut pada beberapa kemasan produk makanan.

Ahli pangan dari Universitas Sahid Jakarta, Prof dr Hardinsyah, MS, menerangkan pangan jajanan adalah pangan atau makanan dan minuman yang disiapkan dan dijual oleh pedagang yang bisa langsung dikonsumsi tanpa pengolahan lebih lanjut.

"Jajanan ini dari jenisnya berupa makanan atau minuman. Dari ukurannya dapat berupa makanan sepinggan (nasi goreng, mie ayam, lontong sayur, es bangka komplit dll) atau berupa makanan kecil atau snek (kudapan)," jelasnya.

Nah jajanan pun tergantung jenis dan karakteristik serta regulasinya, ada yang memang cocok untuk anak 1-5 tahun dan ada yang tidak. Misalnya, buah potong yang dijajakan selagi aman bisa diberikan. Begitu juga susu cair kotak siap minum yang rata-rata aman untuk anak di atas 2 tahun.


Sementara itu Prof Dr Ir Ali Khomsan, Guru besar di bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan kemungkinan yang ada dari rekomendasi yang tertulis kecil di sejumlah kemasan jajanan.

"Kalau kacang-kacangan terkait dengan bahaya tersedak, kalau yang manis-manis terkait isu too much sugar bagi anak yang kurang baik," ujarnya.

Karena itu, Prof Ali menyarankan para orang tua untuk belajar membaca label gizi agar tahu apa yang dikonsumsi oleh anaknya. Belajar untuk mengurangi makanan manis, asin dan berlemak tidak melebihi batas.


Prof Hardinsyah pun juga mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kode makanan yang diatur oleh BPOM.

"Itulah gunanya SNI dan regulasi pangan, pengawasan dan edukasi pangan dan gizi. Sederhananya bila suatu produk yang dikemas memiliki kode BPOM MD nomor sekian sekian ATAU BPOM ML nomor sekian sekian berarti produk tersebut sudah oke oleh BPOM," pungkas Prof Hardinsyah. (ask/up)
News Feed