Rabu, 01 Agu 2018 12:46 WIB

Korban Pemerkosaan Dihukum, Psikolog: Kekerasan Seksual Pun Sudah Traumatik!

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Korban perkosaan dipenjara karena menggugurkan kandungannya, psikolog sebut efek kekerasan seksualnya pun sebenarnya sudah sangat traumatis. Foto: Ilustrasi/Thinkstock Korban perkosaan dipenjara karena menggugurkan kandungannya, psikolog sebut efek kekerasan seksualnya pun sebenarnya sudah sangat traumatis. Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Tengah ramai kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh kakak (17) terhadap sang adik (15) hingga menimbulkan kehamilan. Isu yang terjadi Muara Bulian, Jambi, ini pun makin menggemparkan karena si adik justru ikut dipenjara karena menggugurkan kandungannya.

DetikHealth pun meminta tanggapan dari Vitria Lazzarini, psikolog dari Yayasan Pulih mengenai kasus tersebut. Menurutnya dalam kasus ini sudah terlihat jelas bahwa penanganan pada korban belum maksimal sehingga korban mengalami viktimisasi.



"Pada kasus ini kita bicara dalam konteks anak. Anak yang kemampuan berpikirnya masih sangat berkembang dan ia sebagai korban sangat membutuhkan pendampingan yang optimal lintas lembaga layanan," ujarnya melalui pesan singkat.

Kekerasan seksual yang dialami sudah merupakan peristiwa traumatik, kehamilan pun traumatik, tindakan aborsi dan penjatuhan hukuman lagi-lagi juga peristiwa traumatik,Vitria Lazzarini, psikolog dari Yayasan Pulih
"Kekerasan seksual yang dialami sudah merupakan peristiwa traumatik, kehamilan pun traumatik, tindakan aborsi dan penjatuhan hukuman lagi-lagi juga peristiwa traumatik. Sangat terlihat jelas bagaimana korban terus menerus mengalami peristiwa traumatik setelah ia alami kekerasan seksual," tambahnya.


Pilihan dari anak tersebut pun seolah terbatas, ia tidak mendapatkan dukungan dan layanan yang semestinya. Ditambah lagi banyak orang yang ikut menyalahkan pilihan si anak ketika memutuskan untuk mengugurkan kandungan.

Sebelumnya diketahui, kejadian ini dilakukan pada bulan September 2017 yang dipicu film porno yang disaksikan oleh kakak. Dikutip dari detikNews, perut si anak membuncit di bulan Februari. Karena panik, korban perkosaan mengurut-urut perutnya hingga keguguran.

Janin itu dibungkus taplak meja dan dibuang keesokan harinya. Janin itu ditemukan warga dan polisi melacak kasus itu. Sang ibu dinyatakan sebagai tersangka karena diduga ikut membantu anaknya aborsi, sementara si kakak jadi tersangka pemerkosaan atas adiknya. Yang tak disangka, sang adik turut menjadi tersangka karena aborsi atas janin yang dikandungnya.

(ask/fds)