Kumpulan Saran Psikolog untuk Kasus Korban Perkosaan

Kumpulan Saran Psikolog untuk Kasus Korban Perkosaan

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Rabu, 01 Agu 2018 14:38 WIB
Kumpulan Saran Psikolog untuk Kasus Korban Perkosaan
Saran psikolog mengenai kasus pemerkosaan. Foto: REUTERS/Danish Siddiqui
Jakarta - Kasus anak (15) yang dipenjara karena aborsi usai diperkosa oleh kakaknya (17) masih bergulir. Keputusan ini diambil oleh Pengadilan Negeri (PN) Muara Bulian, Jambi. Si anak kini tengah mengajukan banding ditemani oleh kuasa hukum, sementara si kakak dan ibu dari keduanya menjadi tersangka.

Pemerkosaan sendiri adalah pengalaman yang traumatis, tidak mudah untuk melupakannya begitu saja. Dirangkum detikHealth, berikut ini adalah kumpulan saran dari psikolog ketika menghadapi kasus perkosaan.



Berhenti menyalahkan diri sendiri

Foto: thinkstock
Dr Laura McGuire, seks edukator di universitas melihat banyak korban menyalahkan diri mereka sendiri, seperti dikutip dari Cosmopolitan.

"Mereka mulai, 'yah, aku tahu (kekerasan itu) salah, tapi aku seharusnya tidak terus berkencan dengan orang ini, atau berada dalam situasi itu."

Jika kamu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada dirimu, coba berandai-andai. Bila ada seorang temanmu mengatakan hal yang sama dengan apa yang terjadi pada dirimu, apakah kamu masih akan menyalahkan mereka?

Jika merasa membutuhkan bantuan, yuk hubungi profesional

Foto: Getty Images
"Sering kali dengan trauma jenis apa pun, hal pertama yang dilakukan otak kita adalah kata, 'ayo hindari ini dan jangan pikirkan tentang itu dan hancurkan semua perasaan itu,'" kata Dr Mcguire.

"Itu metode bertahan hidup, karena jika kamu berhenti dan memikirkannya, kamu akan hancur... Apa pun yang harus kamu lakukan untuk bertahan hidup adalah baik dan perlu pada saat itu."

Namun bila kamu merasa ingin terhubung dengan terapis yang ahli dalam membantu menyembuhkan luka setelah pelecehan seksual, jangan ragu untuk mencari pertolongan profesional.

Jangan terlalu menyalahkan keluarga

Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Berbagai komentar datang, beberapa ada yang menyalahkan pihak keluarga. Jangan terlalu memojokkan, bagaimana pun keluarga korban sebenarnya juga membutuhkan kekuatan menghadapi kasus perkosaan, semisal yang untuk kasus di Jambi, demikian tutur Vitria Lazzarini, psikolog dari Yayasan Pulih.

"Saya pikir keluarga saat itu berupaya yang terbaik. Saya tidak mau menyalahkan keluarga karena buat mereka masalah ini pun sudah berat. Saat ini sebaiknya kita berfokus pada pemulihan korban yang terus mengalami viktimisasi dan berupaya memberikan efek jera pada pelaku. Untuk keluarga penting diberikan dukungan agar mereka dpt melalui situasi sulit ini," ujar Vitria.

"Keluarga perlu diberi penguatan agar dapat mendampingi korban untuk memulihkan dirinya serta mendampingi pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya."

Baca buku yang bisa menguatkan

Foto: ilustrasi/thinkstock
"Sering kali, orang-orang tidak merasa nyaman di tubuh mereka lagi, dan itu adalah tempat banyak kenangan sedih," ujar Dr McGuire.

Dan ternyata latihan fisik dan membaca buku dapat membantu. Buku seperti 'The Survivor's Guide to Sex' dan 'The Sexual Healing Journey' misalnya adalah dua di antaranya.
Halaman 5 dari 5
(wdw/fds)

Berita Terkait