Kamis, 02 Agu 2018 13:03 WIB

Young Lex Dinilai Vulgar, Kenapa Sih Anak Zaman Now Kerap Berkata Kasar?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Kontrovesi Young Lex usai singgung Lisa Blackpink. Foto: Young Lex bintangi The Underdogs (ismail/detikhot) Kontrovesi Young Lex usai singgung Lisa Blackpink. Foto: Young Lex bintangi 'The Underdogs' (ismail/detikhot)
Jakarta - Penyanyi lagu 'Sekarang Lo Nyesel Kan' alias Younglex kini sedang diserang karena dinilai telah melakukan pelecehan seksual kepada Lisa Blackpink. Akibatnya, Young Lex pun batal diundang dalam acara yang turut mengundang Lisa Blackpink.

Jika melihat fenomena sekarang, nampaknya banyak sekali remaja yang kerap mengeluarkan kata negatif. Padahal mendengar kata negatif bisa memberikan dampak yang buruk bagi otak, demikian dijelaskan oleh Gisella Tani Pratiwi, MPsi, Psikolog Anak dan Remaja. Dituturkan olehnya, perkembangan otak pada masa remaja masih belum selengkap pada orang dewasa di mana otak yang mengelola kondisi dan respon emosi serta otak bagian depan yang membuat rencana, analisa dan perilaku logis sudah berkembang seimbang.

Agar merasa diterima, maka remaja biasanya terdorong untuk melakukan kegiatan atau perilaku yang mirip atau sama dengan teman-temannya. Dan mungkin jika pada saat itu kata-kata negatif lah yang sedang 'in' atau populer, maka remaja secara spontan menirunya,Gisella Tani Pratiwi, MPsi, Psikolog Anak dan Remaja
"Pada remaja yang banyak berkembang adalah bagian otak yang banyak memicu respon emosi serta keinginan impulsif mencoba hal-hal baru, sehingga remaja mudah sekali merekam kata-kata atau hal-hal yang dianggap sesuai dengan kondisi emosinya yang meledak-ledak, salah satunya mengekespresikannya dengan kata-kata yang kasar atau sebenarnya bermakna negatif," jelasnya.

Lantas mengapa sih anak zaman now kerap mengucapkan kata-kata kasar?


Jadi gini menurut Gisella salah satu perkembangan diri remaja adalah eksplorasi pembentuk indentitas diri. Salah satu aspeknya adalah seberapa jauh ia merasa diterima sebagai bagian dari kelompok sepermainannya atau kelompok sebayanya. Agar merasa diterima, maka remaja biasanya terdorong untuk melakukan kegiatan atau perilaku yang mirip atau sama dengan teman-temannya.

"Dan mungkin jika pada saat itu kata-kata negatif lah yang sedang 'in' atau populer, maka remaja secara spontan menirunya," kata Gisella.

Jadi itulah pentingnya untuk meminimalisir penggunaan kata negatif. Yuk deh saling mengingatkan untuk menggunakan kosa kata yang lebih positif mulai sekarang.

(ask/fds)
News Feed