Ini Sebabnya Orang Denmark Jarang Masuk Rumah Sakit

ADVERTISEMENT

Laporan dari Denmark

Ini Sebabnya Orang Denmark Jarang Masuk Rumah Sakit

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 06 Agu 2018 10:30 WIB
Salah satu rumah sakit pendidikan paling besar di Denmark (Foto: Uyung/detikHealth)
Odense - Tidak tampak hiruk pikuk pengunjung saat detikHealth mengunjungi Odense University Hospital baru-baru ini. Salah satu rumah sakit terbesar di Denmark ini memiliki 1.000 bed dan melayani sekitar 40.113 operasi dan 1.130.000 pasien rawat jalan setiap tahun.

Sistem layanan kesehatan di Denmark memang didesain untuk 'membatasi' kunjungan ke rumah sakit. Ketika seseorang sakit, mereka akan dilayani oleh General Practitioner (GP) atau dokter keluarga. Jika memang tidak bisa ditangani oleh dokter tersebut, barulah orang tersebut akan dirujuk ke dokter spesialis di rumah sakit.

"GP yang menjadi penjaga gawang. Sembilan puluh persen pasien tertangani di GP dan hanya 10 persen yang dirujuk ke rumah sakit," kata Jens Rastrup Andersen dari Sundhed.dk, sebuah portal resmi untuk layanan kesehatan di Demark.

Di Denmark, butuh proses panjang untuk bisa mendapatkan layanan spesialistik di rumah sakit. Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Denmark, M Ibnu Said mengisahkan, dirinya butuh sekitar 3-4 bulan untuk berkonsultasi dengan dokter saraf hanya untuk mengkonsultasikan migrain yang dialaminya.

"Sekali konsultasi bisa sampai 3.500 kroner Denmark. Sekitar Rp 7 juta," katanya saat menyambut delegasi Kementerian Kesehatan RI di Kedutaan Besar RI di Kopenhagen.

Dokter keluarga menjadi 'gate keeper' sehingga tak semua pasien harus masuk rumah sakit.Dokter keluarga menjadi 'gate keeper' sehingga tak semua pasien harus masuk rumah sakit. Foto: Uyung/detikHealth




Direktur Layanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, drg Saraswati, MPH menyebut rasio dokter layanan primer menjadi salah satu tantangan utama untuk mewujudkan sistem semacam itu. Jika di Denmark rasionya 1 dokter menangani sekitar 1.600 pasien, di Indonesia 1 dokter masih ada yang menangani hingga 10.000 pasien.

"Masih ada maldistribusi di tempat kita," kata drg Saras.

Denmark menggratiskan layanan kesehatan untuk warganya. Namun tidak semua penyakit bisa mendapat perawatan di rumah sakit.Denmark menggratiskan layanan kesehatan untuk warganya. Namun tidak semua penyakit bisa langsung mendapat perawatan di rumah sakit. Foto: Uyung/detikHealth


Selain itu, kompetensi dokter layanan primer juga masih butuh peningkatan. Menurut drg Saras, dari 144 diagnosis yang seharusnya bisa ditangani oleh dokter layanan primer, saat ini baru 100-120 diagnosis yang bisa ditangani di layanan primer.

Sedangkan dari sisi pasien, Direktur Kepatuhan, Hukum, dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan dr H Bayu Wahyudi SpOG, MPHM, MHKes, MM menekankan perlunya edukasi. Bahwa untuk mendapatkan layanan spesialistik, pasien perlu mendapat rujukan terlebih dahulu dari dokter layanan primer.

"Di kita, setengah jam saja tidak dilayani dokter spesialis sudah ribut di media sosial," kata dr Bayu.

(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT