5 Gejala yang Biasa Menyertai Brain Atrophy

5 Gejala yang Biasa Menyertai Brain Atrophy

Christantio Utama - detikHealth
Rabu, 15 Agu 2018 11:37 WIB
5 Gejala yang Biasa Menyertai Brain Atrophy
Otak manusia. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta - Beberapa waktu yang lalu anak dari presenter Jevier Justin mengalami kejang-kejang dan terpaksa harus dibawa ke rumah sakit. Diketahui bahwa putri Jevier Justin yakni Shannuel Favory Justin mengidap Brain Atrophy.

Brain Atrophy adalah sebuah penyakit yang menyerang bagian otak manusia. Penyakit tersebut menghambat pertumbuhan serta fungsi otak sehingga interaksi antar saraf pengidap menjadi terganggu.



ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Active Beat, berikut ini adalah beberapa gejala yang perlu diketahui mengenai Brain Atrophy:

Gangguan komunikasi

Foto: thinkstock
Aphasia merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kendala dalam berkomunikasi atas apa yang telah ia pelajari selama ini.

Terdapat 2 jenis aphasia. Jenis pertama adalah Broca yakni pengidap kehilangan kemampuan dalam mengerti bahasa. Jenis berikutnya adalah Wernicke yang berpengaruh terhadap kemampuan berbicara seseorang yang mengidap Brain Atrophy.

Kelemahan otot

Foto: thinkstock
Kelemahan otot memang mungkin terjadi karena beberapa gangguan kesehatan lainnya, namun kelemahan otot memiliki keterkaitan dengan gejala penyakit Brain Atrophy.

Gangguan pada otak akibat Brain Atrophy mengakibatkan kerja saraf motorik juga terganggu. Kelemahan otot ini dapat menyerang seluruh bagian tubuh kamu yang digerakan oleh otot.

Gangguan pendengaran

Foto: Thinkstock
Gangguan pendengaran bisa menjadi salah satu gejala dari Brain atrophy dan sebuah penelitian sudah membuktikan keterkaitan antara 2 hal tersebut.

Dalam penelitian lainnya memperlihatkan bahwa orang yang mengalami gangguan pendengaran memiliki aktivitas otak yang lebih rendah dari pada tidak memiliki masalah pendengaran.

Demensia

Foto: ilustrasi/thinkstock
Demensia adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan seseorang mengalami hilang ingatan, gangguan bahasa serta perubahan kepribadian karena adanya kelainan pada otak.

Demensia juga mampu mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang sehingga membuat penderita tidak mampu mengurus keperluan hidupnya sendiri.

Kejang berkepanjangan

Foto: thinkstock
Seseorang yang mengalami kejang-kejang selama lebih dari 30 menit hingga 24 jam dan telah mendapat penanganan dari dokter dipercaya terjadi akibat terkena Brain Atrophy.

Diperlukan penelitian medis lebih lanjut mengenai hal ini, sebab penelitian sebelumnya baru dilakukan dalam skala yang kecil saja.
Halaman 2 dari 6
Aphasia merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kendala dalam berkomunikasi atas apa yang telah ia pelajari selama ini.

Terdapat 2 jenis aphasia. Jenis pertama adalah Broca yakni pengidap kehilangan kemampuan dalam mengerti bahasa. Jenis berikutnya adalah Wernicke yang berpengaruh terhadap kemampuan berbicara seseorang yang mengidap Brain Atrophy.

Kelemahan otot memang mungkin terjadi karena beberapa gangguan kesehatan lainnya, namun kelemahan otot memiliki keterkaitan dengan gejala penyakit Brain Atrophy.

Gangguan pada otak akibat Brain Atrophy mengakibatkan kerja saraf motorik juga terganggu. Kelemahan otot ini dapat menyerang seluruh bagian tubuh kamu yang digerakan oleh otot.

Gangguan pendengaran bisa menjadi salah satu gejala dari Brain atrophy dan sebuah penelitian sudah membuktikan keterkaitan antara 2 hal tersebut.

Dalam penelitian lainnya memperlihatkan bahwa orang yang mengalami gangguan pendengaran memiliki aktivitas otak yang lebih rendah dari pada tidak memiliki masalah pendengaran.

Demensia adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan seseorang mengalami hilang ingatan, gangguan bahasa serta perubahan kepribadian karena adanya kelainan pada otak.

Demensia juga mampu mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang sehingga membuat penderita tidak mampu mengurus keperluan hidupnya sendiri.

Seseorang yang mengalami kejang-kejang selama lebih dari 30 menit hingga 24 jam dan telah mendapat penanganan dari dokter dipercaya terjadi akibat terkena Brain Atrophy.

Diperlukan penelitian medis lebih lanjut mengenai hal ini, sebab penelitian sebelumnya baru dilakukan dalam skala yang kecil saja.

(Christantio Utama/up)

Berita Terkait