Sabtu, 18 Agu 2018 15:22 WIB

Ketika Boxing Dijadikan Media untuk Lawan Stigma dan Diskriminasi HIV-AIDS

Widiya Wiyanti - detikHealth
Kelas boxing di Rumah Cemara oleh Gina Afriani. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth Kelas boxing di Rumah Cemara oleh Gina Afriani. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth
Jakarta - Boxing atau tinju merupakan salah satu jenis olahraga yang memiliki intensitas yang cukup tinggi. Boxing tentu bisa meningkatkan kebugaran tubuh juga menjaga tubuh tetap dalam keadaan prima.

Namun, berbeda dengan Komunitas Rumah Cemara Bandung, mereka menjadikan boxing sebagai media untuk melawan stigma dan diskriminasi bagi orang dengan HIV-AIDS (ODHA), pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA), dan kaum marginal.

"Salah satu caranya pas abis boxing itu kita ada sesi ngobrolnya dulu. HIV apa sih? HIV nggak nular kok. Kita campurin orang yang ODHA sama yang nggak," ujar Gina Afriani selaku koordinator Sport for Development Rumah Cemara kepada detikHealth beberapa waktu lalu saat ditemui di UNAIDS - Country Office For Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


Kelas boxing di Rumah Cemara oleh Gina Afriani.Kelas boxing di Rumah Cemara oleh Gina Afriani. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth


Peserta yang mengikuti kelas boxing ini tidak hanya berasal dari ketiga golongan di atas, namun orang biasa pun banyak pula yang mengikutinya. Gina berharap, dengan digabungnya semua peserta, peserta normal bisa menjadi agen untuk menjelaskan kepada orang lain mengenai HIV-AIDS.

Boxing juga disebut menjadi salah satu metode healing therapy untuk para pecandu NAPZA.

"Si boxing itu jadi healing therapy juga sih, terapi si drugs-nya juga. Ketika dia boxing, keinginan dia untuk kembali menggunakan itu jadi berkurang," jelas Gina.

Karena belum berjalan lama dan belum mendapatkan sumber pendanaan yang cukup, kelas boxing ini mengharuskan pesertanya untuk membayar sekitar 15 ribu rupiah untuk satu kali sesi. Kelas boxing di Rumah Cemara ini dibedakan bagi yang atlet, umum, dan wanita.

(wdw/up)
News Feed