Selasa, 28 Agu 2018 07:10 WIB

Mungkinkah Membentengi Diri dari Hoax?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Manusia lebih mudah menerima hoax. Hoax bisa ditulis sedemikian rupa hingga menarik perhatian banyak orang. Mungkinkah membentengi diri dari hoax?/Foto: ilustrasi/thinkstock Manusia lebih mudah menerima hoax. Hoax bisa ditulis sedemikian rupa hingga menarik perhatian banyak orang. Mungkinkah membentengi diri dari hoax?/Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Sesuai kodratnya, manusia ternyata lebih mudah menerima hoax yang belum terbukti benar. Terutama hoax yang menyinggung insting dasar manusia untuk bertahan hidup, melawan rasa takut, dan menjaga keamanan di sekitarnya. Hoax bisa ditulis sedemikian rupa hingga mampu menarik perhatian banyak orang, misal dengan teknik hypnowriting.

Reaksi atas hoax umumnya lebih bersifat emosional yang merupakan ciri khas croc brain atau crocodile brain. Croc brain adalah sebutan cara kerja otak yang mengutamakan kondisi emosi dibanding akal. Keputusan atas hasil kerja otak emosi terjadi diluar kendali sadar manusia.

"Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya karena ini merupakan sifat dasar manusia," kata dokter bedah saraf Roslan Yusni Hasan dari Tahir Neuroscience Center RS Mayapada.

Meski begitu, manusia bisa berusaha untuk tidak mudah terpengaruh peredaran kabar miring. Salah satunya dengan berlatih untuk lebih peka terhadap kebenaran suatu kabar. Misal mencari data pembanding untuk mencari kebenaran kabar sebelumnya. Hal ini membutuhkan kerja otak rasional yang mengedepankan akal.



Sayangnya kecenderungan masyarakat saat ini masih mudah dipengaruhi hoax. Kabar miring yang mengancam keselamatan diri langsung diterima tanpa mencari tahu lebih lanjut. Roslan berharap kecenderungan tersebut bisa diminimalisir dengan kemampuan manusia menggunakan rasio. Hal ini akan menekan reaksi primitif yang dipicu croc brain saat merasa terancam.

Roslan tak menampik adanya pengaruh mood yang mempengaruhi reaksi manusia. Hal ini berlaku untuk sistem kerja otak yang mengutamakan emosi maupun rasional. Mood lebih efektif dikendalikan dengan obat-obatan dibanding latihan. Jenis obat yang biasa digunakan dan terbukti efektof adalah regulator mood dan antidepresan.


Simak Juga 'Jelang Pilpres, Ini Jurus Sakti Google Hantam Hoax':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed