Dikutip dari Health Line, sperma dinyatakan sehat bila produksinya mencapai 15 juta atau lebih dalam satu mililiter air mani. Produksi yang lebih banyak menandakan kesehatan yang makin baik. Sekitar 40 persen dari jumlah sperma harus bisa bergerak aktif yang mengindikasikan kesuburan pria. Sperma sehat memiliki kepala yang bulat serta ekor yang kuat dan panjang untuk mendorong pergerakannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjaga asupan
|
Foto: Getty Images
|
Asupan juga mengandung vitamin C yang meningkatkan produksi sperma, bergantung dari jumlah konsumsi setiap hari. Manfaat serupa bisa diperoleh dari kacang berdasar riset tahun 2019 pada 119 pria. Asupan lain yang wajib dikonsumsi adalah berasal dari likopene yang banyak terdapat pada buah dan sayur berwarna merah. likopene mengurangi reactive oxygen species (ROS) yang berisiko merusak sperma dan DNA.
Olahraga teratur, namun jangan berlebihan
|
Foto: thinkstock
|
Pilih baju dalam yang tepat
|
Foto: Getty Images
|
Namun, hasil riset tak bisa langsung diterima. Periset tak meneliti faktor lain yang bisa mempengaruhi produksi sperma, misal bahan dan model pakaian dalam. Dengan pertimbangan ini, brief masih aman dikenakan pria.
Batasi konsumsi alkohol dan kafein
|
Foto: thinkstock
|
Mengonsumsi suplemen
|
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Menghindari zat kimia yang berbahaya bagi reproduksi
|
Foto: iStock
|
Zat tersebut adalah timbal yang ditemukan dalam pipa, cat, tanah, dan debu terutama di dalam atau dekat rumah tua. Zat berikutnya adalah stirene dan aseton yang ada dalam piring plastik, pembungkus, isolasi, dan bahan konstruksi umum. Dua zat lainnya adalah uap merkuri dalam industri tabung semprot (aerosol) dan debu logam, serta dibromochloropropane ( C3H5Br2Cl) yang sering ditemukan di pestisida dan fasilitas riset.
Halaman 2 dari 7











































