Penyakit Misterius di Emirates Bukan MERS, Ini Bedanya dengan Flu

Penyakit Misterius di Emirates Bukan MERS, Ini Bedanya dengan Flu

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Jumat, 07 Sep 2018 17:30 WIB
Penyakit Misterius di Emirates Bukan MERS, Ini Bedanya dengan Flu
Foto: thinkstock
Jakarta - Nyaris 100 penumpang Emirates Airlines rute Dubai-New York mengeluh sakit pada Kamis dini hari (6/9/2018). Keluhan penyakit tersebut disertai gejala berupa batuk dan demam, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

"Orang-orang batuk selama penerbangan, seperti berdahak, batuk yang sangat menjijikkan, mereka tidak menutup mulutnya," kata salah seorang penumpang yang berasal dari New York, Erin Sykes, dikutip dari Reuters.



ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak berwajib telah mengkonfirmasi bahwa 10 penumpang di antaranya positif mengidap flu setelah dibawa ke rumah sakit. Sebelumnya dikhwatirkan gejala tersebut adalah middle-east respiratory syndrome (MERS), mengingat beberapa penumpang datang daru Mekah, Arab Saudi, yang sedang mengalami wabah flu.

MERS dan flu disebut memiliki gejala yang sama, seperti demam, batuk dan kesusahan bernapas. Hal ini disebabkan keduanya sama-sama berasal dari virus yang menyebabkan penyakit pernapasan.

Lalu bagaimana cara membedakannya? Berikut ini, detikHealth merangkumnya dari berbagai sumber.

Jenis virus

Foto: thinkstock
Middle-East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) disebabkan oleh coronavirus yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang menyebabkan serangkaian penyakit pada manusia, dari demam biasa hingga Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Dan juga menyerang binatang.

Penularan

Foto: thinkstock
MERS tidak semudah itu menular dari satu orang ke orang lain. Biasanya, orang yang lebih sering tertular adalah para tenaga kesehatan atau anggota keluarga. Sementara flu bisa menular kepada siapapun lewat kontak kasual, misal duduk di sebelah orang yang sedang mengidap flu.

Jenis penyakitnya

Foto: ilustrasi/thinkstock
Influenza atau flu menyebabkan spektrum infeksi, yang berkisar dari tanpa gejala hingga ke gejala rendah, sedang, atau sangat parah. Walaupun MERS-CoV juga mengalami fase ini, observasi terbaru mengungkapkan bahwa saat infeksi terjadi, biasanya langsung lebih parah.

"Waktu yang berbahaya"

Foto: Youtube/colinfurze
Waktu yang paling 'berbahaya' bagi MERS-CoV adalah saat pasien sedang parah-parahnya mengalami pneumonia di mana tingkat penularannya sangan tinggi. Sedangkan untuk flu bisa menularkan penyakitnya kapanpun bahkan sejak hari pertama sebelum gejala muncul hingga tujuh hari setelah sakit.

Yang berisiko tertular

Foto: thinkstock
Flu lebih banyak menyerang dan terjadi pada anak-anak dan lansia. Sementara pasien MERS-CoV umumnya berada di sekitar usia 50 tahun dan risikonya semakin tinggi jika memiliki komplikasi seperti diabetes atau penyakit jantung. Namun tidak menutup kemungkinan yang berusia muda juga bisa terkena penyakit ini.
Halaman 2 dari 6
Middle-East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) disebabkan oleh coronavirus yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang menyebabkan serangkaian penyakit pada manusia, dari demam biasa hingga Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Dan juga menyerang binatang.

MERS tidak semudah itu menular dari satu orang ke orang lain. Biasanya, orang yang lebih sering tertular adalah para tenaga kesehatan atau anggota keluarga. Sementara flu bisa menular kepada siapapun lewat kontak kasual, misal duduk di sebelah orang yang sedang mengidap flu.

Influenza atau flu menyebabkan spektrum infeksi, yang berkisar dari tanpa gejala hingga ke gejala rendah, sedang, atau sangat parah. Walaupun MERS-CoV juga mengalami fase ini, observasi terbaru mengungkapkan bahwa saat infeksi terjadi, biasanya langsung lebih parah.

Waktu yang paling 'berbahaya' bagi MERS-CoV adalah saat pasien sedang parah-parahnya mengalami pneumonia di mana tingkat penularannya sangan tinggi. Sedangkan untuk flu bisa menularkan penyakitnya kapanpun bahkan sejak hari pertama sebelum gejala muncul hingga tujuh hari setelah sakit.

Flu lebih banyak menyerang dan terjadi pada anak-anak dan lansia. Sementara pasien MERS-CoV umumnya berada di sekitar usia 50 tahun dan risikonya semakin tinggi jika memiliki komplikasi seperti diabetes atau penyakit jantung. Namun tidak menutup kemungkinan yang berusia muda juga bisa terkena penyakit ini.

(frp/up)

Berita Terkait