Miazga Disebut Ejek Tinggi Lawan Main, Ini 4 Faktor Bertubuh Pendek

Miazga Disebut Ejek Tinggi Lawan Main, Ini 4 Faktor Bertubuh Pendek

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Jumat, 14 Sep 2018 10:01 WIB
Miazga Disebut Ejek Tinggi Lawan Main, Ini 4 Faktor Bertubuh Pendek
Seseorang punya tinggi badan yang berbeda karena banyak hal. Foto: Getty Images
Jakarta - Di menit ke-65 pertandingan persahabatan antara timnas Amerika Serikat Vs Meksiko di Nissan Stadium, Tennessee, AS, Rabu (12/9/2018) waktu setempat, sempat terjadi sebuah peristiwa yang bikin geger dunia maya.

Salah satu pemain Amerika Serikat, Matt Miazga dengan pemain penyerang Meksiko Diego Lainez dikabarkan terlibat perselisihan karena Miazga dianggap mengejek tinggi badan Lainez. Postur kedua pemain ini memang cukup jauh, Miazga dengan tinggi 193 cm dan Lainez 167 cm.

Postur tubuh seseorang, tinggi atau pendeknya, memang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut ini hal-hal yang membawa pengaruh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor genetik sudah jelas

Foto: Thinkstock
Molekuler biologis Chao-Qiang Lai dari Jean Mayer U.S. Department of Agriculture Human Nutrition Research Center on Aging di Tufts University menjelaskan bahwa faktor genetik membawa pengaruh terbesar dari masalah tinggi badan.

"Sekitar 60 hingga 80 persen perbedaan tinggi badan di antara individu ditentukan oleh faktor genetik, sedangkan 20 hingga 40 persen dapat dikaitkan dengan efek lingkungan, terutama nutrisi," jelasnya seperti ditulis Scientific American.

Pola makan dari ibu sejak hamil

Foto: ilustrasi/thinkstock
Kekurangan gizi menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan dan ini bisa terjadi semenjak ibu mengandung. Nutrisi yang diberikan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) adalah langkah awal untuk memastikan anak terhindari dari stunting atau kurang gizi kronis yang juga berpengaruh, salah satunya, pada tinggi badan anak.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 39 persen. Akan tetapi, angka ini turun menjadi 29 persen pada 2017, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2015-2019.

Kondisi geografis

Foto: Melissa Bonauli
Bukti menunjukan jika orang-orang Asia memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari orang Eropa. Ini dipengaruhi oleh banyak hal semisal produk domestik bruto (PDB) yang tinggi, tingkat urbanisasi yang tinggi, tingkat kematian anak yang rendah, indeks pembangunan manusia yang tinggi dan pengeluaran kesehatan di atas rata-rata serta asupan protein, seperti ditulis oleh penelitian yang dipublikasikan di jurnal 'Economics & Human Biology'.

ASI eksklusif

Foto: thinkstock
Menyusui memiliki dampak terbesar pada perkembangan kognitif dan fisik bayi di tahun pertama mereka. Sebuah studi di 'Archives of Pediatrics' meneliti efek menyusui pada tinggi dan berat 6.669 bayi dari enam negara dari 1997 hingga 2003.

Studi ini melaporkan menyusui selama empat bulan pertama dan pengenalan makanan padat dengan kontribusi enam bulan berkontribusi pada peningkatan tinggi anak-anak. Studi ini juga menyimpulkan bahwa populasi anak di seluruh negara akan tumbuh pada tingkat yang sama ketika diberi makan secara memadai.
Halaman 2 dari 5
Molekuler biologis Chao-Qiang Lai dari Jean Mayer U.S. Department of Agriculture Human Nutrition Research Center on Aging di Tufts University menjelaskan bahwa faktor genetik membawa pengaruh terbesar dari masalah tinggi badan.

"Sekitar 60 hingga 80 persen perbedaan tinggi badan di antara individu ditentukan oleh faktor genetik, sedangkan 20 hingga 40 persen dapat dikaitkan dengan efek lingkungan, terutama nutrisi," jelasnya seperti ditulis Scientific American.

Kekurangan gizi menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan dan ini bisa terjadi semenjak ibu mengandung. Nutrisi yang diberikan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) adalah langkah awal untuk memastikan anak terhindari dari stunting atau kurang gizi kronis yang juga berpengaruh, salah satunya, pada tinggi badan anak.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 39 persen. Akan tetapi, angka ini turun menjadi 29 persen pada 2017, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2015-2019.

Bukti menunjukan jika orang-orang Asia memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari orang Eropa. Ini dipengaruhi oleh banyak hal semisal produk domestik bruto (PDB) yang tinggi, tingkat urbanisasi yang tinggi, tingkat kematian anak yang rendah, indeks pembangunan manusia yang tinggi dan pengeluaran kesehatan di atas rata-rata serta asupan protein, seperti ditulis oleh penelitian yang dipublikasikan di jurnal 'Economics & Human Biology'.

Menyusui memiliki dampak terbesar pada perkembangan kognitif dan fisik bayi di tahun pertama mereka. Sebuah studi di 'Archives of Pediatrics' meneliti efek menyusui pada tinggi dan berat 6.669 bayi dari enam negara dari 1997 hingga 2003.

Studi ini melaporkan menyusui selama empat bulan pertama dan pengenalan makanan padat dengan kontribusi enam bulan berkontribusi pada peningkatan tinggi anak-anak. Studi ini juga menyimpulkan bahwa populasi anak di seluruh negara akan tumbuh pada tingkat yang sama ketika diberi makan secara memadai.

(ask/wdw)

Berita Terkait