Sama-sama Gangguan Makan, Apa Bedanya Anoreksia dan Bulimia?

Sama-sama Gangguan Makan, Apa Bedanya Anoreksia dan Bulimia?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Jumat, 14 Sep 2018 18:01 WIB
Sama-sama Gangguan Makan, Apa Bedanya Anoreksia dan Bulimia?
Ina Thomas yang disebut-sebut netizen terkena Anoreksia. (Foto: Instagram/inathomas)
Jakarta - Saat menyebut gangguan makan, kebanyakan orang pasti akan lebih mengenal anoreksia. Gangguan makan juga kerap dikaitkan dengan tubuh yang super kurus, padahal gangguan makan juga bisa diidap oleh orang yang berbadan gemuk.

Selain anoreksia, istilah bulimia juga kerap muncul. Namun banyak yang tak bisa membedakan antara anoreksia dan bulimia, walau memang memiliki gejala yang hampir sama seperti citra tubuh yang terdistorsi.

Dirangkum dari situs Healthline, berikut beberapa hal yang bisa membantumu membedakan anoreksia dan bulimia:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanda dan gejala anoreksia

Foto: Facebook/Paco Ferrera
Citra tubuh yang terdistorsi, misal rasa membenci bentuk tubuh sendiri dan ingin memiliki bentuk tubuh yang berbeda biasanya berasal dari trauma emosional, depresi, atau kecemasan. Beberapa pengidap anoreksia melakukan diet ekstrem sebagai salah satu cara mengontrolnya.

Tanda dan gejala anoreksia bisa ditunjukkan lewat fisik (turun bobot drastis, insomnia, dehidrasi, konstipasi, lemah lesu, rambut tipis dan rontok, kulit kering, amenorrhea atau absen haid atau aritmia), kebiasaan (sering tidak makan, bohong masalah makan, membicarakan yang buruk tentang tubuhnya, menutupi tubuh dengan baju kebesaran, menghindari situasi yang mengharuskan menunjukkan tubuhnya atau olahraga ekstrem), dan emosional (rendah diri, mudah marah, gelisah, perubahan mood, terisolasi, depresi dan cemas) yang bisa jadi membahayakan nyawa mereka.

Tanda dan gejala bulimia

Foto: shutterstock
Sementara dengan bulimia, biasanya disebabkan oleh hubungan tak sehat dengan makanan. Terbalik dari tak makan, justru malah pengidap bulimia selalu pesta makan, namun ujung-ujungnya mereka panik mengenai jumlah kalori yang mereka makan sehingga bisa memunculkan kebiasaan ekstrem untuk mencegah berat badan naik.

Ada dua tipe bulimia, yang pertama adalah purging bulimia (secara rutin sengaja memuntahkan kembali setelah makan banyak, lewat obat pencahar atau memasukkan jari) dan yang kedua adalah non-purging bulimia (melakukan olahraga ekstrem untuk mencegah bobot naik setelah berpesta makan).

Oleh karena itu, banyak pengidap bulimia justru tidak terlihat berbadan kurus. Kebanyakan malah berbadan normal atau gemuk, dan umumnya mengalami kecemasan atau depresi karena kebiasaan makan mereka di luar kontrol.

Tanda fisik lainnya adalah mulut kering karena dehidrasi, banyak luka karena senjaga muntah, kelenjar limfe membengkak. Sedangkan kebiasaannya sering terlihat terus-terusan khawatir akan bobot atau penampilannya, makan sampai merasa tidak nyaman, langsung menuju kamar mandi setelah makan, atau tidak ingin makan di depan orang lain.

Penyebab

Foto: Thinkstock
Kedua gangguan makan ini termasuk dalam gangguan mental, namun masih belum jelas apa yang menjadi penyebabnya. Banyak pakar yang percaya bahwa bisa jadi karena kombinasi kompleks dari biologis, psikologis dan faktor lingkungan.

Misalnya masalah genetik, ada sebuat studi yang menyebutkan bahwa kemungkinan besar seseorang akan mengidap gangguan makan apabila seseorang dalam keluarga juga pernah mengidapnya. Kemudian kondisi emosional, seperti trauma atau gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Yang paling umum biasanya adalah tekanan sosial. Pada zaman modern ini citra tubuh wanita ditunjukkan dengan tubuh yang ramping dan pria dengan tubuh berotot.

DIagnosis

Foto: ilustrasi/thinkstock
Untuk mendiagnosis apakah seseorang mengidap anoreksia, yakni melihat apakah orang tersebut membatasi asupan makanan untuk menjaga bobot di bawah berat ideal, rasa takut yang intens akan menjadi gemuk atau naik bobot, dan mengaitkan bobot dengan nilai diri atau persepsi citra tubuh terdistorsi lainnya.

Bulimia didiagnosis lewat kriteria sering berpesta makan, melakukan kebiasaan tak lazim seperti olahraga berlebihan, senjaga memuntahkan makanan, berpuasa atau menggunakan obat pencahar untuk mencegah bobot naik, dan mengaitkan bobot dengan nilai diri atau persepsi citra tubuh terdistorsi lainnya.

Komplikasi

Foto: ilustrasi/thinkstock
Jika anoreksia dan bulimia tidak segera ditangani, bisa menyebabkan komplikasi yang bisa membahayakan nyawa. Namun komplikasinya juga berbeda-beda. Dalam beberapa kasus bahkan bisa menyebabkan kematian.

Anoreksia bisa berkomplikasi menjadi anemia, ketidakseimbangan elektrolit, aritmia, turun massa tulang, gagal ginjal dan jantung. Sementara, bulimia berkomplikasi menjadi kerusakan gigi, peradangan esofagus, peradangan kelenjar dekat pipi, mag, pankreatitis, aritmia, sesrta gagal ginjal dan jantung.

Halaman 2 dari 6
Citra tubuh yang terdistorsi, misal rasa membenci bentuk tubuh sendiri dan ingin memiliki bentuk tubuh yang berbeda biasanya berasal dari trauma emosional, depresi, atau kecemasan. Beberapa pengidap anoreksia melakukan diet ekstrem sebagai salah satu cara mengontrolnya.

Tanda dan gejala anoreksia bisa ditunjukkan lewat fisik (turun bobot drastis, insomnia, dehidrasi, konstipasi, lemah lesu, rambut tipis dan rontok, kulit kering, amenorrhea atau absen haid atau aritmia), kebiasaan (sering tidak makan, bohong masalah makan, membicarakan yang buruk tentang tubuhnya, menutupi tubuh dengan baju kebesaran, menghindari situasi yang mengharuskan menunjukkan tubuhnya atau olahraga ekstrem), dan emosional (rendah diri, mudah marah, gelisah, perubahan mood, terisolasi, depresi dan cemas) yang bisa jadi membahayakan nyawa mereka.

Sementara dengan bulimia, biasanya disebabkan oleh hubungan tak sehat dengan makanan. Terbalik dari tak makan, justru malah pengidap bulimia selalu pesta makan, namun ujung-ujungnya mereka panik mengenai jumlah kalori yang mereka makan sehingga bisa memunculkan kebiasaan ekstrem untuk mencegah berat badan naik.

Ada dua tipe bulimia, yang pertama adalah purging bulimia (secara rutin sengaja memuntahkan kembali setelah makan banyak, lewat obat pencahar atau memasukkan jari) dan yang kedua adalah non-purging bulimia (melakukan olahraga ekstrem untuk mencegah bobot naik setelah berpesta makan).

Oleh karena itu, banyak pengidap bulimia justru tidak terlihat berbadan kurus. Kebanyakan malah berbadan normal atau gemuk, dan umumnya mengalami kecemasan atau depresi karena kebiasaan makan mereka di luar kontrol.

Tanda fisik lainnya adalah mulut kering karena dehidrasi, banyak luka karena senjaga muntah, kelenjar limfe membengkak. Sedangkan kebiasaannya sering terlihat terus-terusan khawatir akan bobot atau penampilannya, makan sampai merasa tidak nyaman, langsung menuju kamar mandi setelah makan, atau tidak ingin makan di depan orang lain.

Kedua gangguan makan ini termasuk dalam gangguan mental, namun masih belum jelas apa yang menjadi penyebabnya. Banyak pakar yang percaya bahwa bisa jadi karena kombinasi kompleks dari biologis, psikologis dan faktor lingkungan.

Misalnya masalah genetik, ada sebuat studi yang menyebutkan bahwa kemungkinan besar seseorang akan mengidap gangguan makan apabila seseorang dalam keluarga juga pernah mengidapnya. Kemudian kondisi emosional, seperti trauma atau gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Yang paling umum biasanya adalah tekanan sosial. Pada zaman modern ini citra tubuh wanita ditunjukkan dengan tubuh yang ramping dan pria dengan tubuh berotot.

Untuk mendiagnosis apakah seseorang mengidap anoreksia, yakni melihat apakah orang tersebut membatasi asupan makanan untuk menjaga bobot di bawah berat ideal, rasa takut yang intens akan menjadi gemuk atau naik bobot, dan mengaitkan bobot dengan nilai diri atau persepsi citra tubuh terdistorsi lainnya.

Bulimia didiagnosis lewat kriteria sering berpesta makan, melakukan kebiasaan tak lazim seperti olahraga berlebihan, senjaga memuntahkan makanan, berpuasa atau menggunakan obat pencahar untuk mencegah bobot naik, dan mengaitkan bobot dengan nilai diri atau persepsi citra tubuh terdistorsi lainnya.

Jika anoreksia dan bulimia tidak segera ditangani, bisa menyebabkan komplikasi yang bisa membahayakan nyawa. Namun komplikasinya juga berbeda-beda. Dalam beberapa kasus bahkan bisa menyebabkan kematian.

Anoreksia bisa berkomplikasi menjadi anemia, ketidakseimbangan elektrolit, aritmia, turun massa tulang, gagal ginjal dan jantung. Sementara, bulimia berkomplikasi menjadi kerusakan gigi, peradangan esofagus, peradangan kelenjar dekat pipi, mag, pankreatitis, aritmia, sesrta gagal ginjal dan jantung.

(frp/fds)

Berita Terkait