Senin, 17 Sep 2018 10:05 WIB

Curhat Ingin Bunuh Diri di Medsos, Cari Perhatian atau Bukan?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Curhat bunuh diri di medsos, cari perhatian? Foto: unsplash Curhat bunuh diri di medsos, cari perhatian? Foto: unsplash
Jakarta - Pada era media sosial ini tak jarang kita temukan seseorang menceritakan pengalaman mereka pernah dekat dengan bunuh diri. Ada juga yang 'curhat' tentang keinginan mereka mengakhiri hidup di media sosial. Sayangnya, beberapa orang menyebut curhat tersebut sebagai salah satu tindak mencari perhatian. Lalu apakah itu benar?

Benny Prawira, pendiri Komunitas Into The Light Indonesia menyebutkan bahwa kemungkinan besar seseorang yang mengunggah sesuatu ke media sosial bisa jadi bukan dalam arti sebenarnya. Akan tetapi, ia menekankan akan selalu lebih baik untuk tidak mengabaikan atau merendahkan peringatan bunuh diri dari seseorang.

"Selalu lebih baik untuk overestimate tanda peringatan bunuh diri dari seseorang. Karena pertama, tidak ada orang yang dalam hidup normalnya itu mencari perhatian dengan cara seperti itu. Orang kalau hidupnya normal dia akan cari perhatian dengan prestasi, yang bener-bener sehat," katanya pada acara konser amal Vintage Choir bertajuk 'Let's Do Something, Stop Suicide!' di Universitas Multimedia Nusantara Tangerang, Minggu (16/9/2018).


Jika menemukan seseorang yang kerap mengunggah sesuatu yang merupakan tanda dari keinginan bunuh diri, Benny menyarankan daripada menyebut mereka 'cari perhatian', akan lebih baik bertanya secara personal. Bisa lewat chat atau pesan pribadi, namun jangan berkomentar di unggahan mereka untuk menghindari mereka semakin terpicu.

dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jakarta juga menambahkan bahwa perlu diketahui jika setiap bunuh diri itu unik, kompleks dan sangat heterogen. Bunuh diri merupakan kasus multifaktorial, sehingga menjadi tantangan berat bagi siapapun, bahkan bagi para dokter jiwa.

Faktor-faktor penyebab bisa genetik, psikologis ataupun keadaan sosial. dr Noriyu, sapaannya, menyebutkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 51 persen kematian yang disebabkan oleh bunuh diri ditemukan adanya gangguan seperti depresi.

WHO mencatat setidaknya ada 5,2 per 100.000 penduduk untuk kasus bunuh diri di Indonesia pada tahun 2016. Walau tidak setinggi di negara lain seperti Amerika Serikat misalnya, namun angka ini tetaplah memerlukan perhatian lewat adanya upaya pencegahan.




Saksikan juga video 'Kate Spade Sudah Lama Berjuang Lawan Depresi':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
News Feed