Jakarta -
Swiss dikenal sebagai salah satu negara paling makmur di dunia, dengan warganya yang berumur panjang. Dalam daftar Health at A Glance 2017 yang disusun Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Swiss menempati posisi 10 dengan dengan rata-rata lama hidup 82,3 tahun.
Pemerintah Swiss melakukan dan menerapkan revisi kebijakan kesehatan mulai 2009 hingga 2017. Salah satunya terkait pola makan yang diyakini sebagai faktor risiko terbesar dalam kesehatan. Dilasnir dari situs Education, Audiovisual and Culture Executive Agency (EACEA) Europe Commision, pola makan warga Swiss sebetulnya sudah membaik sejak 1990an. Namun asupan sayur dan buah tetap lebih rendah dibanding gula, garam, dan lemak.
Swiss memberi makanan gratis di tempat umum misal sekolah, panti, dan rumah sakit dengan nutrisi yang cukup dan seimbang. Makanan bergizi tersedia setiap hari untuk semua siswa yang berusia 7 hingga 16 tahun. Pemerintah juga menjamin kecukupan gizi bagi siswa dengan rentang usia 16 hingga 19 tahun. Makanan tersedia hangat dalam berbagai pilihan antara lain salad, roti, butter, sisi, dan air putih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat Swiss juga memegang teguh prinsip berikut untuk menjaga kesehatannya. Prinsip ini tentunya bisa dilaksanakan masyarakat Indonesia.
Secukupnya
Foto: shutterstock
|
Masyarakat Swiss menyebut prinsip ini sebagai Lagom yang bermakna tidak terlalu banyak, sedikit, namun secukupnya. Lagom dilaksanakan dalam seluruh kehidupan warga Swiss, termasuk dalam makan dan bekerja. Ide prinsip ini adalah memenuhi keseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan tubuh, tanpa lebih atau kurang.
Menyenangkan diri
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Meski memegang prinsip secukupnya, masyarakat Swiss tak ragu memberi kesenangan pada diri sendiri. Salah satunya makan permen yang sangat mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan. Swiss tak lagi menerapkan tradisi hari antipermen sejak 1950, yang bertujuan menekan jumlah kasus sakit gigi.
Makan bersama
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Warga Swiss makan bersama saat istirahat siang di kantor, sekolah, dan instansi lain. Mereka bisa makan bekal, hidangan dari pemerintah, atau membeli sendiri dengan piring yang disediakan kantin. Seluruh warga menikmati sesi ini dengan bersosialisasi, meski tetap mempertahankan sikap makan yang baik.
Tidak takut lemak
Foto: Istock
|
Dengan melaksanakan prinsip secukupnya, warga Swiss tidak takut mengonsumsi lemak setiap hari. Swiss seolah tak kenal dengan produk berbahan susu rendah lemak. Butter, krim saus, dan keju produksi Swiss mengandung banyak lemak yang ternyata lebih disukai warganya.
Makan gandum
Foto: Istock
|
Swiss terbiasa mengonsumsi gandum yang belum mengalami proses penggilingan atau pengolahan yang disebut grain. Sebagai makanan pokok, gandum grain sesekali diselingi wheat, oat, atau nasi. Namun masyarakat lebih memilih makanan berbahan gandum yang diproduksi sendiri dan lebih bernutrisi.
Masyarakat Swiss menyebut prinsip ini sebagai Lagom yang bermakna tidak terlalu banyak, sedikit, namun secukupnya. Lagom dilaksanakan dalam seluruh kehidupan warga Swiss, termasuk dalam makan dan bekerja. Ide prinsip ini adalah memenuhi keseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan tubuh, tanpa lebih atau kurang.
Meski memegang prinsip secukupnya, masyarakat Swiss tak ragu memberi kesenangan pada diri sendiri. Salah satunya makan permen yang sangat mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan. Swiss tak lagi menerapkan tradisi hari antipermen sejak 1950, yang bertujuan menekan jumlah kasus sakit gigi.
Warga Swiss makan bersama saat istirahat siang di kantor, sekolah, dan instansi lain. Mereka bisa makan bekal, hidangan dari pemerintah, atau membeli sendiri dengan piring yang disediakan kantin. Seluruh warga menikmati sesi ini dengan bersosialisasi, meski tetap mempertahankan sikap makan yang baik.
Dengan melaksanakan prinsip secukupnya, warga Swiss tidak takut mengonsumsi lemak setiap hari. Swiss seolah tak kenal dengan produk berbahan susu rendah lemak. Butter, krim saus, dan keju produksi Swiss mengandung banyak lemak yang ternyata lebih disukai warganya.
Swiss terbiasa mengonsumsi gandum yang belum mengalami proses penggilingan atau pengolahan yang disebut grain. Sebagai makanan pokok, gandum grain sesekali diselingi wheat, oat, atau nasi. Namun masyarakat lebih memilih makanan berbahan gandum yang diproduksi sendiri dan lebih bernutrisi.
(up/up)