Kamis, 27 Sep 2018 15:35 WIB

Bagaimana PMI Pastikan Kantong Darah Bebas HIV dan Hepatitis?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi kantong darah (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Kalau kamu pernah donor darah, selamat! Kamu merupakan salah satu orang yang berjasa karena telah membantu dalam upaya penyelamatan pasien. Di Indonesia, donor darah biasanya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Tetapi, belum tentu darah yang didonorkan bisa langsung diberikan kepada yang membutuhkan.

Laporan Kegiatan Pelayanan Darah oleh PMI (Palang Merah Indonesia) pada tahun 2016, terdapat 2 dari 10.000 orang yang terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) setelah melakukan transfusi darah. Selain itu, ada 12 dari 1000 yang terjangkit Hepatitis B dan 4 dari 1000 yang terkena Hepatitis C akibat transfusi darah. Kepala UTD PMI Provinsi DKI Jakarta, dr. Salimar Salim menjelaskan bahwa PMI melakukan prosedur pencegahan penyakit menular dengan melakukan uji saring atau uji screening.

"Unit Transfusi Darah sangat berperan aktif dalam upaya menurunkan penyebaran penyakit menular. Oleh karena itu, dilakukan tahap uji sebelum darah akhirnya di distribusikan kepada pasien. Pemeriksaan darah saat ini menggunakan uji NAT (Nucleid Acid Test) dengan tingkat efisiensi 97 persen," ujar saat ditemui pada acara Seminar Kesehatan PMI di Kantor Walikota Jakarta Timur, Kamis (27/9/2018).



Tahapan pemeriksaan darah oleh PMI yaitu screening darah dengan menggunakan uji saring Nucleid Acid Test (NAT) yang lebih sensitif terhadap keberadaan virus mampu penyebab penyakit dalam darah serta mendeteksi infeksi darah lebih cepat.

"Dari seorang pendonor akan dihasilkan 2 sampai 3 kantong darah, jadi seandainya satu kantong darah terinfeksi virus Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV makan sekitar 2 sampai 3 orang penerima donor yang akan terkena virus yang sama. PMI itu pintu utama untuk memastikan tidak adanya penyakit yang tersebar melalui transfusi,"

Menurut dr Salimar, pengelolaan darah di rumah sakit banyak yang tidak sesuai standar yang telah ditetapkan sehingga menyebabkan penyebaran penyakit menular. Oleh karena itu, harus dilakukan pengujian untuk meningkatkan keamanan darah secara signifikan.





Tonton juga 'Perokok Berat Boleh Donor Darah Nggak Sih?':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)