Selasa, 09 Okt 2018 18:28 WIB

Gunung Es Perilaku Seks Pranikah di Kalangan Remaja

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi pacaran ala remaja. Foto: admn
Jakarta - Rasa saling menyayangi satu sama lain merupakan hal yang wajar. Ketika jatuh cinta, hormon dopamin dan oksitoksin dilepaskan sehingga muncul perasaan yang menggebu-gebu dalam diri.

Tren pacaran para remaja rata-rata dimulai pada usia 15-17 tahun. Perilaku pacaran yang tidak sehat dapat menjadi awal perilaku seksual yang menyimpang, misalnya hubungan seksual pranikah yang bisa mengakibatkan konsekuensi pada masalah kesehatan seperti penularan IMS (Infeksi Menular Seksual), kehamilan remaja, dan masalah sosial lainnya.

Data dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mengungkap sekitar 2 persen remaja wanita usia 15-24 tahun dan 8 persen remaja pria di rentang usia yang sama, telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sebanyak 11 persen di antaranya mengaku mengalami kehamilan tidak diinginkan.

Kehamilan yang tidak diinginkan berisiko terhadap komplikasi kehamilan dan upaya pengguguran kandungan.

"Jumlah ini yang tercatat, bisa jadi di luar sana yang enggak terdata lebih banyak," ujar Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dari Kementerian Kesehatan, Tin Afifah, SKM, MKM pada Selasa (9/10/2018).


Berbagai alasan diungkap oleh para remaja terkait dengan hubungan seksual pranikah yang mereka lakukan seperti saling mencintai, rasa penasaran, terjadi begitu saja, dipaksa, butuh uang, hingga pengaruh dari teman atau lingkungan.

"Hubungan seksual yang menyimpang juga bisa meningkatkan penularan HIV-AIDS, apalagi kalau tidak dibarengi dengan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi," tambahnya.

(Khadijah Nur Azizah/up)