Senin, 22 Okt 2018 08:09 WIB

True Story

Kisah Haru Nunu Supaanong Lawan Stigma Autisme dengan Prestasi

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Semangat Nunu Supaanong melawan stigma mengenai autisme patut diapresiasi. (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth) Semangat Nunu Supaanong melawan stigma mengenai autisme patut diapresiasi. (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Jakarta - Terdiagnosis severe autism atau autisme dengan tingkat keparahan tinggi saat berusia 2,5 tahun membuat Supaanong Panyasirimongkol asal Thailand sempat memiliki masa kecil yang berat. Wanita yang akrab disapa Nunu ini harus berjuang sejak kecil melawan stigma pada penyandanh autisme yang diterimanya.

Namun Nunu sangat beruntung memiliki seorang ibu yang super sabar. Baginya, sang ibu adalah seorang pahlawan yang tanpa lelah untuk terus memacu dirinya, mengasah kepercayaan dirinya, menembus batas seorang penyandang autisme.

"Saat kecil aku diajarkan mengatasi masalah bersosialisasi dengan ikut balet, judo, karate. Masa-masa itu sangat sulit. Aku pernah menyerah, aku tak pernah mengerti juga mengapa aku harus melakukannya. Aku menangis di hadapan ibuku, aku berteriak kalau aku tidak menyukainya dan aku akan berhenti. Apa yang dilakukan ibuku? Dia hanya sabar dan sabar," Nunu mengisahkan kepada detikHealth, saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Usaha sang ibunda pun berbuah manis. Pada usia 10 tahun, Nunu berkembang menjadi moderate-functioning autism, dan lalu pada usia nyaris 18 tahun ia sukses menjadi seorang high-functioning autism. Dikutip dari MayoClinic, high-functioning autism merupakan istilah tak resmi bagi penyandang gangguan spektrun autisme yang mampu berbicara, membaca, menulis dan mengurusi kemampuan-kemampuan dasar seperti makan dan memakai baju. Bahkan mereka juga bisa hidup sendiri seperti yang lainnya.

Sekilas wanita yang kini berusia 28 tahun tak akan terkira bahwa ia adalah seorang penyandang autisme. Bicaranya lugas, mantap, dan sangat percaya diri layaknya orang pada umumnya. Tak heran jika ia mampu berprestasi dengan menghadiri kongres internasional dan menjadi karyawan pertama dengan latar belakang autisme di sebuah organisasi internasional.



Sudah 3,5 tahun Nunu bekerja sebagai Networking and Collaboration Officer di Asia-Pacific Development Centre on Disability (APCD). Nunu adalah pribadi yang suka menantang dirinya sendiri berkat didikan 'keras' sang ibu. Satu turning point alias titik balik dalam hidup Nunu terlewati.

Ia juga pernah menjadi panelis dalam rapat dengan para pejabat tinggi, salah satunya adalah Persatuan Bangsa-bangsa (UN). Dia menjadi orang dengan autisme pertama yang memberikan advokasi diri dalam rapat tersebut, dan membuat orang-orang di sana terpukau pada diri Nunu. Ia menyebut hal ini adalah titik balik kedua dalam hidupnya.

Saat ia mendapatkan cukup banyak reputasi, dia mendapatkan proyek besar lainnya. Ia menjadi bagian dari proyek ASEAN Autism Mapping sebagai pakar autisme, yang merupakan proyek dari ASEAN untuk memetakan jumlah penyandang autisme di Asia Tenggara, di mana hingga kini belum pernah ada data pasti yang didapat. Berkatnya, Nunu telah mengunjungi beberapa negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.

"Pertamanya orang-orang bilang 'Oh, penyandang autisme bisa bekerja di situ (APCD)?' tapi buatku itu nggak masalah. Sebelumnya aku pun brrsekolah di sekolah umum, aku juga menjadi murid autis pertama di sekolah itu. Jadi aku tahu gimana rasanya. Berasa deja-vu. Yah paling nanti mereka juga terbiasa. Pokoknya tetap lakukan yang terbaik. Dan kupikir bagus juga membuat mereka mengenal diriku lebih baik dari sebelumnya. Kini aku bekerja dengan sangat bahagia," ungkap wanita berambut pendek ini.



Orang tua Nunu pun sangat positif dan bangga dengan pekerjaannya. Namun pernah suatu hari saat ia terlihat sangat sibuk dan terlalu banyak kegiatan, mereka memintanya untuk setidaknya tetap meluangkan waktu untuk keluarga. Nunu mengaku ia kesulitan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, namun ia tetap berusaha menyeimbangkannya.

Di luar pekerjaannya, Nunu adalah seorang scuba diver berlisensi. Ia memperolehnya setelah mempelajarinya selama tiga tahun. Salah satu momen tak terlupakan adalah saat ia menyelam di Great Barrier Reef Australia.

"Aku terus menantang diriku dan mengingatkan diri untuk terus melakukan apa yang kusuka. Aku sangat menyukai selam dan berada di dalam air. Menyelam di laut adalah favoritku. Tapi waspada dengan hiu, tendang saja di hidungnya karena itu titik terlemah mereka. Saat malam hari mungkin jadi neraka bagi penyelam, namun semua terbayar dengan pemandangan bawah laut yang cantik dan antusias," cerita Nunu dengan menggebu-gebu, tampak antusias.

Oleh karena itu, Nunu tak keberatan pula untuk menggantikan atlet Thailand yang berhalangan hadir akibat masa berlaku paspor kurang dalam lomba renang di helatan ASEAN Autism Games 2018. Sebuah kompetisi persahabatan dalam bidang olahraga yang diikuti oleh nyaris 200 penyandang autisme dari seluruh Asia Tenggara, yang pada tahun keempatnya ini Indonesia berkesempatan jadi tuan rumah.

Melawan stigma masyarakat soal autisme memang bukan hal mudah. Akan tetapi bagi Nunu, para penyandang autisme bisa melakukan hal-hal yang takkan pernah bisa diuga. Mereka punya keunikan mereka masing-masing dan tidak ada duanya di dunia ini.

"Kamu tidak akan menemukan Nunu kedua di luar sana yang benar-benar mirip dengan Nunu yang ini. Aku juga tak perlu menjadi siapapun."

"Dan, percayalah bahwa jika mereka mau, mereka bisa melakukan segalanya. Jangan pernah meremehkan dan jangan tinggalkan seseorang dengan autisme!" tandas Nunu, dikuti dengan senyuman lebar.





Tonton juga ''Tidak Mudah Melatih Atlet Penyandang Autisme':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)