Senin, 22 Okt 2018 15:30 WIB

Ini Dampaknya Jika Imunisasi MR Tak Mencapai Target

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi pemberian vaksin difteri (Foto: Lamhot Aritonang) Ilustrasi pemberian vaksin difteri (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Per tanggal 22 Oktober 2018, capaian imunisasi Measles dan Rubella (MR) masih 63,36 persen dari taget 95 persen. Ada beberapa tantangan di setiap daerah di luar Pulau Jawa, salah satunya penolakan masyrakat.

Penolakan masyarakat disebut oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono karena adanya keraguan akan kehalalan vaksin MR tersebut.

Namun, Anung mengatakan bahwa tidak dilakukannya imunisasi MR ini bisa berdampak pada mewabahnya penyakit campak yang dapat menular dengan mudah, terutama pada ibu hamil. Risikonya pun akan sama seperti daerah yang sama sekali tidak melakukan imunisasi MR.

"Kita ini setiap tahun mempunya 5 juta ibu yang sedang hamil, kalau dibagi per trimester, ini kan penularannya lebih banyak di trimester satu, artinya ada sepertiga dari 1,5 juta ibu hamil yang sedang di triwulan satu," jelas Anung saat ditemui di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Senin (22/10/2018).



"Taruh di luar Jawa 40 persen, 60 persen di Jawa. Berarti kan 40 persen dari 1,5 juta, kira-kira 500-600an ribu. Kalau kemudian mereka tertular di daerah tadi yang tidak ada ini (imunisasi), tahun depan kita sudah panen dong dengan rubella congenital syndrome, meski segala sesuatunya tidak head to head," lanjutnya.

Rubella congenital syndrome sendiri akan membuat bayi lahir dengan cacat, bahkan bisa menimbulkan masalah yang cukup serius dan kompleks, seperti kelainan jantung, katarak, masalah pada otak, dan masalah pada tumbuh kembangnya.

Anung menambahkan, jika masyrakat tidak mau melakukan imunisasi MR pada anaknya, maka harus bersedia menanggung semua dampak yang akan terjadi nantinya.

"Kalau kamu disediain minum sehat, tapi milih air comberan, kamu kalau sakit nggak usah sambat saya. Itu harus disampaikan secara konkret meski persuasif. Nggak boleh orang egois hanya dengan pendapatnya sendiri," tegasnya.

"Terus siapa yang harus menyadarkan? Kita semuanya. Anda yang membuat sebuah komunitas nih harus sadar, eh inget dong kalau kamu hanya satu saja yang diimunisasi, tahu nggak kamu berpotensi menularkan ke saya, tapi juga sebaliknya kamu berpotensi tidak jadi seperti saya," tutupnya.

(wdw/up)