"Sebagian sudah kita ambil sampel DNA-nya karena tidak semua yang melapor ke sini mengajak orang tua atau anaknya. Sehingga ini masih berjalan dan diharapkan bisa hadir ke sini. Hubungan langsung orang tua dan putra-putri untuk pemeriksaan DNA," kata Kepala RS Polri dr Musyafak saat jumpa pers di kantornya, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/10/2018), dikutip dari detikNews.
Tes DNA merupakan alat terkuat untuk mengidentifikasi, biasanya digunakan untuk tes biologis, forensik kriminal atau terapi gen. DNA atau deoxyribonucleic acid merupakan sebuah materi yang mereplikasi diri pada hampir semua organisme hidup sebagai konstituen utama kromosom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk tes DNA biologis (parental), forensik dan genetik berfokus untuk mencari kemiripan dari penanda genetik antara dua sampel biologis. Karena seluruh sel dalam tubuh mengandung DNA yang nyaris sama, sampel bisa didapat dari bagian tubuh manapun, seperti kulit, folikel rambut, darah dan cairan tubuh lainnya.
Ahli forensik biasanya akan diminta untuk membandingkan DNA dari sel-sel kulit yang ditemukan di bawah kuku korban, dengan DNA dari sampel darah yang diambil dari keluarga potensial korban. Lalu pertama-tama, DNA diisolasikan dari sel-selnya dan jutaan duplikatnya akan dibuat menggunakan metode yang disebut polymerase chain reaction atau PCR.
PCR menggunakan enzim alami untuk berkali-kali menyalin peregangan DNA tertentu. Memiliki banyak DNA membuat kode genetik lebih mudah untuk dianalisis. Lalu molekul DNA dibagi pada lokasi-lokasi tertentu untuk memisahkanya menjadi 'pecahan' yang dikenali dan kode pada titik-titik tertentu tersebut dianalisis untuk membuat DNA sidik jari dari dua sampel yang berbeda lalu dibandingkan untuk melihat apakah keduanya cocok.
Keakuratan tes DNA memang memiliki implikasi yang besar. Terkadang tes ini hanya menjadi satu-satunya 'bukti' untuk membuktikan apakah seseorang benar pelaku dari sebuah kriminal atau mengidentifikasi korban kecelakaan atau bencana alam.
"Sangat mudah untuk mengatakan jika DNA dari dua sampel biologis tidak cocok. Namun kecocokan pun tak membuatmu benar-benar yakin bahwa kedua sampel tersebut datang dari orang yang sama. Selalu ada kesempatan kecil bahwa dua penanda genetik seseorang yang berbeda bisa menjadi sama, terutama jika mereka terkait satu sama lain," demikian dikutip dari situs BBC Science.
Untuk mengurangi kemungkinan adanya error, para ahli akan mengetes lebih dari satu penanda genetik. Semakin identikal di antara kedua sampel, semakin akurat tes tersebut. Namun untuk mengetes lebih banyak tentu akan membutuhkan banyak waktu dan biaya pula. Tes DNA forensik biasanya menguji enam hingga sepuluh penanda, dan kemungkinan kedua orang yang tidak terkait memiliki profil yang identik kurang dari satu dari satu miliar.
Terkait dengan tes DNA pada korban JT 610, dr Musyafak mengatakan hingga saat ini ada 132 keluarga korban yang datang untuk menyerahkan data korban. Biaya untuk pemeriksaan DNA bakal ditanggung pihak RS Polri.
"Untuk biaya operasional DVI barang kali masih di-cover kesehatan Polri. Sedangkan nanti kalau ada kendala, kita akan laporkan ke pimpinan. Jadi sama sekali tidak ada rencana, belum ada rencana minta bantuan, apalagi dari pihak lain," jelasnya.
Tonton juga 'Ada Potongan Tubuh Bayi Korban Jatuhnya Lion Air JT 610':
(frp/up)











































