Kamis, 01 Nov 2018 18:39 WIB

BPOM Ajak ASEAN Tangkal Obat Tradisional Ilegal

Ristu Hanafi - detikHealth
Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K Lukito (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom) Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K Lukito (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)
Yogyakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyebut masih marak peredaran produk obat tradisional dan suplemen kesehatan ilegal. Selain hasil produksi dalam negeri, obat ilegal impor juga banyak beredar di pasaran.

"Kita khawatirkan obat tradisional ilegal, dari Cina dan India, salah dua negara di luar negara ASEAN yang juga maju obat tradisionalnya. Kalau tidak ada pemahaman standar mutu dan keamanan oleh pedagang dan konsumen," kata Kepala BPOM RI, Penny K Lukito di sela acara The 30th ASEAN Consultative Committee for Standards and Quality on Traditional Medicines and Health Supplements Product Working Group Meeting and Its Related Event di Marriott Hotel Yogyakarta, Kamis (1/11/2018).

Untuk melawan produk obat tradisional impor ilegal dan produk yang mengandung bahan berbahaya, atau produk dalam negeri yang beredar tanpa izin, BPOM terus berupaya memberi pendampingan ke UKM atau pelaku jamu tradisional. Menurut Penny, produsen obat tradisional dan suplemen kesehatan paling banyak di Indonesia Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Kita beri pendampingan untuk memastikan aspek keamanan kandungannya, mutu, manfaat, dan registrasi dari BPOM," jelasnya.

"Konsumen jangan sampai terkecoh apalagi dengan pengobatan alternatif, harus hati-hati tidak boleh ada bahan kimia dalam produk tanpa pengawasan dokter," sambungnya.

Dari pengamatan BPOM, maraknya produk ilegal juga dampak dari e-commerce. Di satu sisi e-commerce bisa membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat, tapi di sisi tapi harus diwaspadai sebagai jalur distribusi produk ilegal.

Oleh sebab itu, BPOM bersama national regulatory agency serta pelaku usaha obat tradisional dari 9 negara ASEAN sedang merumuskan regulasi sebagai standar mutu, manfaat dan keamanan obat tradisional yang bisa dipasarkan di tingkat regional.



"Kita sebagai satu kawasan bisa mandiri saling membagi hadapi negara penghasil obat tradisional seperti India dan Cina," imbuh Penny.

Penny menyadari tren masyarakat mengonsumsi produk dari bahan alam meningkat. Kondisi itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri obat tradisional dan suplemen kesehatan untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk.

Sementara itu, data BPOM RI, jumlah produk obat tradisional dan suplemen kesehatan yang terdaftar mengalami peningkatan dari 2.950 pada tahun 2016 menjadi 3.220 pada tahun 2017. Dan sampai dengan September 2018 tercatat 2.868 produk obat tradisional dan suplemen kesehatan terdaftar di BPOM.

"Kita terus mendukung pengembangan industri obat tradisional dan suplemen kesehatan, di antaranya melalui deregulasi, simplifikasi registrasi, coaching clinic, mendorong dan mengawal penelitian di perguruan tinggi atau lembaga penelitian yang berorientasi produk, serta memberikan jalur hijau perizinan untuk produsen yang aktif melakukan ekspor," pungkas Penny.

(up/up)