Beragam Hal yang Pernah Mendorong Anak-anak Sampai Bunuh Diri

Beragam Hal yang Pernah Mendorong Anak-anak Sampai Bunuh Diri

Firdaus Anwar - detikHealth
Selasa, 13 Nov 2018 16:35 WIB
Beragam Hal yang Pernah Mendorong Anak-anak Sampai Bunuh Diri
Anak juga bisa tertekan sampai akhirnya memilih bunuh diri. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dibandingkan dengan kondisi kesehatan lainnya, masalah kesehatan jiwa atau gangguan mental sering dipandang sebelah mata. Padahal hal ini bisa dialami oleh semua orang dari segala usia dengan konsekuensi fatal.

Anak-anak sekalipun bisa mengalami masalah kesehatan jiwa hingga terdorong untuk bunuh diri. Beberapa kali pernah dilaporkan anak di usia Sekolah Dasar (SD) memilih mengakhiri hidup karena merasa tidak mendapat bantuan.

Apa saja sih hal-hal yang bisa mendorong seorang anak sampai bunuh diri? Berikut rangkuman detikHealth:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perundungan

Foto: Rifkianto Nugroho
Perundungan atau bullying sering jadi penyebab tekanan mental terutama pada anak-anak. Satu contoh seorang siswi SMA di Riau tahun 2017 lalu mengalami depresi akibat sering diberi sebutan 'anak orang gila' dan akhirnya bunuh diri.

Menurut psikolog perilaku anak yang melakukan perundungan bisa jadi karena pola asuh yang tidak tepat. "Kalau diarahkan, anak tahu kalau beda-beda itu enggak apa-apa. Tapi kalau tidak diarahkan, anak berpikir yang tidak sesuai dengan kriteria dianggap beda dan ini seakan-akan 'menyerang' kelompok mereka," kata Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi, dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia.

Masalah keluarga

Foto: Thinkstock
Masalah di dalam keluarga seperti konflik dengan orang tua bisa juga berdampak pada kesehatan mental anak. Contoh pernah dilaporkan seorang anak SD memilih mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri di Kali Sunter, Jakarta Utara, Januari 2017 lalu.

Menurut pengakuan sang ayah yang diperiksa Polsek Tanjung Priok, anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Ia juga dilaporkan bermasalah dengan keluarga.

Tekanan akademis

Foto ilustrasi: Rinto Heksantoro/detikcom
Sebagai seorang pelajar seorang anak sering diharapkan dapat berprestasi di sekolahnya. Namun kadang ekspektasi ini bisa memberikan tekanan mental berlebih untuk anak.

Seorang pelajar SMP berinisial EP di Kabupaten Blitar Mei lalu dilaporkan meninggal gantung diri di kamar kos. Semasa hidup ia dikenal sebagai murid pintas namun gagal masuk sekolah favoritnya karena sistem zonasi.

Tekanan media sosial

Foto ilustrasi: Gagah Wijoseno
Di era modern media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan terutama bagi para remaja. Media sosial menjadi saluran di mana mereka bisa berlomba mencari eksistensi diri dan hal ini bisa menempatkan beban mental.

dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan konten atau komentar negatif di media sosial dapat mendorong orang-orang mengalami apa yang disebut trauma sekunder. Dampaknya bila berulang seseorang yang semula sehat jiwa, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya.

"Makanya harus be kind dan jangan asal jeplak. Itu kenapa perlu empati karena empati mengingatkan kita kalau tidak mau dibegitukan ya jangan perlakukan itu. Karena kita tidak tahu mana orang yang sedang bermasalah, kalau iya bermasalah terus diperlakukan begitu ya iya itu pemicu," kata dr Nova.

Halaman 2 dari 5
Perundungan atau bullying sering jadi penyebab tekanan mental terutama pada anak-anak. Satu contoh seorang siswi SMA di Riau tahun 2017 lalu mengalami depresi akibat sering diberi sebutan 'anak orang gila' dan akhirnya bunuh diri.

Menurut psikolog perilaku anak yang melakukan perundungan bisa jadi karena pola asuh yang tidak tepat. "Kalau diarahkan, anak tahu kalau beda-beda itu enggak apa-apa. Tapi kalau tidak diarahkan, anak berpikir yang tidak sesuai dengan kriteria dianggap beda dan ini seakan-akan 'menyerang' kelompok mereka," kata Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi, dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia.

Masalah di dalam keluarga seperti konflik dengan orang tua bisa juga berdampak pada kesehatan mental anak. Contoh pernah dilaporkan seorang anak SD memilih mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri di Kali Sunter, Jakarta Utara, Januari 2017 lalu.

Menurut pengakuan sang ayah yang diperiksa Polsek Tanjung Priok, anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Ia juga dilaporkan bermasalah dengan keluarga.

Sebagai seorang pelajar seorang anak sering diharapkan dapat berprestasi di sekolahnya. Namun kadang ekspektasi ini bisa memberikan tekanan mental berlebih untuk anak.

Seorang pelajar SMP berinisial EP di Kabupaten Blitar Mei lalu dilaporkan meninggal gantung diri di kamar kos. Semasa hidup ia dikenal sebagai murid pintas namun gagal masuk sekolah favoritnya karena sistem zonasi.

Di era modern media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan terutama bagi para remaja. Media sosial menjadi saluran di mana mereka bisa berlomba mencari eksistensi diri dan hal ini bisa menempatkan beban mental.

dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan konten atau komentar negatif di media sosial dapat mendorong orang-orang mengalami apa yang disebut trauma sekunder. Dampaknya bila berulang seseorang yang semula sehat jiwa, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya.

"Makanya harus be kind dan jangan asal jeplak. Itu kenapa perlu empati karena empati mengingatkan kita kalau tidak mau dibegitukan ya jangan perlakukan itu. Karena kita tidak tahu mana orang yang sedang bermasalah, kalau iya bermasalah terus diperlakukan begitu ya iya itu pemicu," kata dr Nova.

(fds/up)

Berita Terkait