Anak-anak sekalipun bisa mengalami masalah kesehatan jiwa hingga terdorong untuk bunuh diri. Beberapa kali pernah dilaporkan anak di usia Sekolah Dasar (SD) memilih mengakhiri hidup karena merasa tidak mendapat bantuan.
Apa saja sih hal-hal yang bisa mendorong seorang anak sampai bunuh diri? Berikut rangkuman detikHealth:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perundungan
|
Foto: Rifkianto Nugroho
|
Menurut psikolog perilaku anak yang melakukan perundungan bisa jadi karena pola asuh yang tidak tepat. "Kalau diarahkan, anak tahu kalau beda-beda itu enggak apa-apa. Tapi kalau tidak diarahkan, anak berpikir yang tidak sesuai dengan kriteria dianggap beda dan ini seakan-akan 'menyerang' kelompok mereka," kata Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi, dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia.
Masalah keluarga
|
Foto: Thinkstock
|
Menurut pengakuan sang ayah yang diperiksa Polsek Tanjung Priok, anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Ia juga dilaporkan bermasalah dengan keluarga.
Tekanan akademis
|
Foto ilustrasi: Rinto Heksantoro/detikcom
|
Seorang pelajar SMP berinisial EP di Kabupaten Blitar Mei lalu dilaporkan meninggal gantung diri di kamar kos. Semasa hidup ia dikenal sebagai murid pintas namun gagal masuk sekolah favoritnya karena sistem zonasi.
Tekanan media sosial
|
Foto ilustrasi: Gagah Wijoseno
|
dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan konten atau komentar negatif di media sosial dapat mendorong orang-orang mengalami apa yang disebut trauma sekunder. Dampaknya bila berulang seseorang yang semula sehat jiwa, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya.
"Makanya harus be kind dan jangan asal jeplak. Itu kenapa perlu empati karena empati mengingatkan kita kalau tidak mau dibegitukan ya jangan perlakukan itu. Karena kita tidak tahu mana orang yang sedang bermasalah, kalau iya bermasalah terus diperlakukan begitu ya iya itu pemicu," kata dr Nova.











































