Rabu, 14 Nov 2018 12:45 WIB

62 Balita di Serang Alami Gizi Buruk, Terbanyak di Daerah Kumuh

Bahtiar Rifa'i - detikHealth
Penjabat (Pj) Wali Kota Serang Ade Ariyanto (Foto: Bahtiar/detikHealth) Penjabat (Pj) Wali Kota Serang Ade Ariyanto (Foto: Bahtiar/detikHealth)
Serang - Sebanyak 62 balita di Kota Serang mengalami gizi buruk pada 2018. Selain itu, sebanyak 2.543 anak mengalami stunting di ibu kota provinsi Banten tersebut.

Angka 62 balita mengalami gizi buruk ada seluruh kecataman se Kota Serang. Angka tertinggi ada di kecamatan kategori kumuh di Kasemen dengan jumlah 25 balita gizi buruk. Kemudian, di Taktakan 9 balita, Serang 12 balita, Walantaka 6 balita, Cipocok Jaya 2 balita dan Curug 8 balita gizi buruk.

"Angka 62 balita ini sangat memprihatinkan," kata Penjabat (Pj) Wali Kota Serang Ade Ariyanto di rapat koordinasi penanganan masalah gizi di Jl Ahmad Yani, Banten, Rabu (14/11/2018).

Ia mengatakan, masalah penanganan gizi buruk di daerahnya selama ini tidak menyentuh akar permasalahan. Meski ada program pemberian asupan bagi balita masalah gizi, akar masalah menurutnya justru ada di perilaku hidup sehat warga.

Karena, daerah dengan masalah sosial paling banyak seperti di Kasemen, warga masih berperilaku tidak sehat. Mulai dari sanitasi, penggunaan air sungai untuk konsumsi, sampai masalah rumah tidak layak huni.

"Saya ingin masyrakat berperilaku layaknya masyarakat kota. Ini bukan di desa lagi, ke depan masyarakat sadar bahwa lingkungan nyaman, sanitasi jelas, air bersih kita support itu indikatator masyarakat kota. Yang penting bagaimana menyadarakan masyarakat," ujarnya.



Menurutnya, tidak ada jaminan masalah ini gizi buruk bisa selesai di Kota Serang jika tidak ada perubahan pola pikir warganya. Khususnya di wilayah utara seperti Kasemen yang masih jadi wilayah kumuh.

"Karena fokus kita ingin menyelesaikan dari akar masalah, sehingga tahun ke tahun ada progres yang jelas terkat penanganan gizi buruk," ujarnya.

Sementara, Kadinkes Kota Serang Toyalis membenarkan terkait dengan pola pikir masyarakat yang perlu diubah. Dari tahun ke tahun, intervensi dinas kesehatan dilakukan untuk menangani masalah ini mulai dari pemberian asupan sampai pemberian vitamin.

"Sudah beberapa tahun ini kita upayakan, tapi yang penting memang harus merubah maindset. Saya lihat tahun ketahun muncul masalah gizi buruk," ujarnya.






Tonton juga 'Stunting Masih Mengancam Anak Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed