Kamis, 15 Nov 2018 18:18 WIB

Kata Psikolog Soal Pembunuhan Sadis Bermotif Dendam

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi pembunuhan sadis bermotof dendam. Foto: Ilustrasi/Thinkstock Ilustrasi pembunuhan sadis bermotof dendam. Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Motif dendam diduga menggerakkan HS hingga melakukan pembunuhan satu keluarga di Bekasi. HS yang ditangkap di Garut, Jawa Barat hanya menggondol mobil SUV milik korban. Sedangkan uang, perhiasan, dan surat berharga masih ada di dalam rumah. Kasusnya kini masih ditangani Polda Metro Jaya.

Dikutip dari Psychology Today, dendam adalah salah satu insting dasar yang dimiliki manusia. Perilaku yang dilatari dendam, sebetulnya adalah pesan dari pelaku terhadap korban. Namun, kontrol perilaku yang dilatari dendam cenderung sulit dan makan korban.

"Balas dendam dianggap sebagai bentuk penegakan keadilan, kerja sama sosial, dan perlindungan terhadap lingkungan terdekat. Namun balas dendam kerap kali membahayakan pelaku dan korban tanpa memenuhi tujuan tersebut," kata psikolog dan penulis The Emotionally Sensitive Person, Mindfulness Exercises, and SAVVY Katyn Hall.


Sebagai insting dasar, balas dendam tak mungkin dihindari dalam keseharian manusia. Namun sebelum melaksanakan aksi berlatar dendam, Hall menyarankan untuk segera menenangkan kondisi kejiwaan. Kondisi psikologi dan kesehatan jiwa yang lebih baik, membantu berpikir lebih tenang sebelum memutuskan hendak balas dendam.

Hall mengingatkan, balas dendam sebetulnya tak menyelesaikan masalah antara pelaku dan korban. Balas dendam justru berisiko menimbulkan masalah dan korban baru, yang belum tentu berkaitan dengan masalah awal. Setiap orang berisiko melakukan kesalahan, namun tiap orang juga berhak memperoleh maaf dan penjelasan.

(Rosmha Widiyani/up)
News Feed