Kamis, 15 Nov 2018 18:37 WIB

Apa yang Terjadi pada Otak Saat Seseorang Membunuh?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Sebenarnya apa yang terjadi pada otak seorang pembunuh? Foto: Dok. Polres Kebumen Sebenarnya apa yang terjadi pada otak seorang pembunuh? Foto: Dok. Polres Kebumen
Jakarta - Polisi memeriksa secara intensif pria berinisial HS dalam kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi. Dalam kasus tersebut, diduga pria bernama HS menjadi tersangkanya.

Pembunuhan, bagaimanapun bentuknya, selalu terdengar kejam dan sadis. Namun apa sebenarnya yang terjadi pada otak manusia saat mereka membunuh? Apakah sama dengan insting hewan untuk bertahan hidup?

Dikutip dari Time, otak manusia terkode untuk perasaan welas asih, rasa bersalah, dan sakit empatik yang menyebabkan seseorang secara sengaja menyakiti untuk membuat orang lain merasakan hal yang sama dengan dirinya. Sebuah studi dilakukan oleh para psikolog di Monash University Melbourne untuk lebih mengerti apa yang terjadi pada otak seorang pembunuh.

Mereka merekrut 48 subyek dan meminta mereka untuk memindai otak mereka menggunakan alat functional magnetic resonance imaging (fMRI) saat mereka menonton tiga video dengan skenario yang berbeda. Satu video menampakkan seorang prajurit membunuh prajurit lawan, selanjutnya prajurit tersebut membunuh warga sipil, dan terakhir seorang prajurit yang menembak namun tak mengenai siapapun.


Seluruh subyek menonton video tersebut dari sudut pandang prajurit dan diberi pertanyaan di akhir "Siapa yang kamu tembak?" dan harus menekan satu tombol yang mengindikasikan jawaban mereka. Setelah dipindai, mereka juga ditanyai menggunakan rating 1-7, seberapa bersalah yang mereka rasakan di tiap skenario.

"Aku akan fokus terlebih dahulu pada aktivitas orbitofrontal cortex, sebuah area di otak bagian depan yang telah lama diketahui terlibat dalam sensitivitas moral, nilai moral dan penentu pilihan bagaimana harus bersikap. Temporoparietal junction (TPJ) terdekat juga berperan dalam beban moral ini, memproses rasa agensi - tindakan melakukan sesuatu dengan sengaja sehingga memiliki tanggung jawab untuk itu," papar Pascal Molenberghs, salah satu psikolog tersebut.

Hasilnya, ada area lain yang disebut fusiform gyrus yang lebih aktif saat para subyek membayangkan mereka membunuh para warga sipil. Fusiform gyrus bertanggung jawab dalam menganalisa wajah, mengungkapkan bahwa para subyek sebelumnya mempelajari ekspresi para korban imajiner mereka terlebih dahulu, dalam kata lain 'memanusiakan' mereka.

Sedangkan saat para subyek membayangkan mereka membunuh para prajurit lawan, ada aktivitas lebih besar pada area yang disebut lingual gyrus, sebuah area yang terlibat dalam bisnis penalaran spasial yang jauh lebih memihak. Seperti misalnya saat ditugaskan untuk membunuh orang yang dianggap benar atau berhak untuk dibunuh.

Sebagian besar subyek mengaku merasa sangat bersalah usai menonton video tersebut. Sehingga dapat disimpulkan, jelas bahwa 'akar' moral dan akar 'saraf' pada pembunuh benar-benar terlibat, sehingga pembunuh atau psikopat sekalipun bukanlah 'berdarah dingin dan tak memiliki moral', namun hanyalah bentuk reaksi yang terjadi dalam otak mereka. Para psikolog yakin dengan memisahkan sedikit kedua 'akar' tersebut dapat membantu mereka dan para kriminolog untuk memprediksi pembunuh dan menghentikan mereka sebelum mereka beraksi.


(frp/up)
News Feed