Minggu, 18 Nov 2018 16:57 WIB

Belajar dari Kekalahan Timnas Indonesia, Jangan Gemar Menyalahkan Orang

Rosmha Widiyani - detikHealth
Timnas Indonesia di Piala AFF 2018.  Foto: Pradita Utama Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Timnas Indonesia kalah dari Thailand dengan skor 2-4, dalam ajang Piala AFF 2018 pada Sabtu (17/11/2018). Kiper Timnas Awan Setho dianggap punya peran penting hingga Thailand bisa unggul, bahkan sebelum babak pertama usai.

Sejarah sepak bola tak asing dengan kesalahan kiper yang menguntungkan tim lawan. Dunia internasional mencatat hal serupa yang pernah terjadi pada kiper Barcelona Robert Enke pada 2002. Enke melakukan blunder yang menyebabkan Barcelona kalah dari tim divisi tiga liga Spanyol Novelda dengan skor 2-3.


Kesalahan ini serta berbagai kejadian lain sepanjang hidup, ternyata telah mengganggu keseimbangan mental Enke. Kiper yang sempat membela Timnas Jerman ini akhirnya bunuh diri pada 2009 dalam usia 32 tahun. Dalam buku biografi A Life Too Short: The Tragedy of Robert Enke yang sempat ditulis sebelum meninggal, Enke mengakui dirinya mengalami depresi.

Enke dalam buku yang ditulis Ronald Reng mengatakan, gejala depresi kali pertama terjadi usai kekalahan Barcelona. Enke tidak bisa membela diri kecuali menerima murka pelatih Frank de Boer. Kritik dari anggota, official, dan pendukung tim telah membuat Enke merasa tidak berharga.

Sayangnya, depresi Enke tidak berhasil diketahui keluarga dan tim medis tim. Enke juga memilih menutupi kondisi mentalnya dengan tetap bersikap profesional. Hal ini jelas tidak menolong, karena pikiran jahat terus menggerogoti kesehatan jiwanya. Pada akhirnya, Enke tidak pernah menemukan penjelasan dan rasa lega hati atas kekalahan Barcelona.

Dalam buku tersebut Reng menulis, bukan hal mudah mengakui kerapuhan mental pada lingkungan terdekat. Apalagi seorang atlet lekat dengan kesan kuat, tidak mudah menyerah, dan selalu bersikap sportif. Hal inilah yang menyebabkan Enke baru bisa menjelaskan kesehatan mentalnya setelah meninggal.

Dikutip dari Telegraph, Enke menjelaskan dirinya tak berharap banyak pada pengertian lingkungan sekitar. Namun dia berharap ada perlakuan lebih baik pada atlet atau profesi apapun yang sempat melakukan kesalahan. Menimpakan kesalahan bukan jalan keluar untuk memperbaiki kualitas di masa depan. Kritik dengan penyampaian yang salah bisa berdampak buruk, terlebih bila pelaku kesalahan mengalami ketidakseimbangan mental dan emosi.

(Rosmha Widiyani/fds)
News Feed