Selasa, 20 Nov 2018 12:58 WIB

Nggak Bisa Matematika, Orang Indonesia Berisiko Jadi Korban Bully

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi kemampuan matematika. Foto: iStock
Jakarta - Orang Indonesia berisiko menjadi korban bully dan eksploitasi di masa mendatang. Risiko ini terkait rendahnya kemampuan matematika pada berbagai jenjang sekolah.

Hal ini terungkap dalam data Indonesia National Assessment Program (INAP) yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016. Dalam data tersebut, sebanyak 77,13 persen kemampuan matematika siswa Indonesia terkategori kurang. Hanya 2,29 persen yang terkategori baik dari 48.682 siswa yang berpartisipasi.


Dikutip dari Psychology Today, kemampuan matematika berhubungan dengan sifat reciprocal altruisme. Sifat ini memungkinkan manusia melakukan perhitungan atas aksinya, yang akan berbalas di masa depan. Karakter ini mencegah manusia menjadi korban eksploitasi dan bully di lingkungan sosial. Kemampuan ini juga memungkinkan manusia tak terlalu berharap atas balasan perbuatannya, atau yang kerap disebut ngarep.

Teori kaitan matematika dan reciprocal altruisme tercantum dalam buku Social Evolution dari Robert Trivers. Psikolog Glenn Geher lantas menyimpulkan, kemampuan matematika berbanding lurus dengan reciprocal altruisme. Artinya, kemampuan matematika yang buruk menyebabkan manusia tak bisa menerapkan reciprocal altruisme. Hal ini mengakibatkan manusia berisiko jadi korban bully, ekploitasi, atau terlalu ngarep.

Manusia dengan reciprocal altruisme baik juga lebih mampu bertahan di lingkungan masyarakat. Mereka tahu saat yang tepat untuk memberi dan menerima, sehingga tidak dipandang terlalu baik atau buruk di lingkungannya.

(Rosmha Widiyani/fds)