Senin, 26 Nov 2018 09:04 WIB

Ini Nih Tips dari Bu Polwan Soal Memilih Kosmetik Aman

Rosmha Widiyani - detikHealth
Tips pilih kosmetik bebas kandungan berbahaya. Foto: Rosmha/detikcom
Jakarta -
Kehidupan perempuan dengan beragam profesi nyaris tak penah lepas dari kosmetik. Keinginan tampil cantik kerap kali mengalahkan kewajiban menjaga kesehatan kulit dan tubuh.
"Kosmetik bagus, legal, dan terdaftar tidak harus mahal. Ada baiknya bila melakukan tes atau baca dulu komponennya sebelum membeli. Ini untuk meyakikan konsumen soal manfaat dan keamaman kosmetik," kata Kepala Unit V Sub Direktorat Industri Perdagangan Badan Reserse Kriminal (Subdit Indag Bareskrim) Polri Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sri Hendrawati pada detikHealth, Sabtu (24/11/2018) pada acara Kampanye Cerdas Memilih dan Menggunakan Kosmetika Aman dan Bermutu bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Sri mengatakan, dirinya biasa mencoba dengan mengoles dan memperhatikan jenis kosmetik yang akan dibeli. Kosmetik yang mengandung merkuri biasanya berubah kehitaman setelah terpapar udara bebas. Kulit yang dioles kosmetik juga berubah menjadi kemerahan atau mengalami perubahan warna lainnya (discoloration).
Menurut Sri, menjadi konsumen cerdas sebetulnya tidak sulit. Apalagi berbagai info soal memilih kosmetika yang aman, sehat, dan berkualitas baik sebetulnya sangat mudah diperoleh. Masyarakat hanya perlu memantapkan niat, segera menerapkannya, dan tidak lagi tergiur iklan kosmetik di berbagai media.
Dikutip dari World Health Organization (WHO), merkuri adalah zat berbahaya yang kerap ditemukan dalam kosmetik. Merkuri anorganik biasa digunakan dalam sabun dan aneka krim pencerah kulit. Sedangkan dalam bentuk organik, merkuri digunakan sebagai bahan pengawet produk pembersih, rias mata, dan maskara.
Kandungan merkuri yang terlalu tinggi menyebakan produk kosmetik terlihat berwarna abu-abu gelap. Bagi tubuh, efek merkuri anorganik dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Dalam jangka pendek, merkuri menyebabkan kulit kemerahan, luka, dan mengalami discoloration. Kulit juga kehilangan resistensiny terhadap infeksi bakteri dan jamur. Efek lainnya adalah memicu kecemasan, depresi, dan mengganggu sistem kerja saraf tepi.


(Rosmha Widiyani/up)