Rabu, 28 Nov 2018 15:10 WIB

Mengapa Sangat Penting untuk Melakukan Skrining Pranikah Talasemia?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Talasemia bisa dihindari dengan skrining pranikah (Foto: ilustrasi/thinkstock) Talasemia bisa dihindari dengan skrining pranikah (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta - Talasemia merupakan penyakit kelainan darah merah yang diturunkan dari kedua orang tua (pembawa sifat) kepada anak dan keturunannya. Penyakit ini menyebabkan sel darah merah yang membawa oksigen jadi mudah pecah sehingga membuat pengidapnya pucat karena kekurangan sel darah merah.

Data dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) mencatat ada sekitar 9.131 pasien talasemia di Indonesia pada Oktober 2016. Angka ini terhitung cukup tinggi dan memerlukan langkah pencegahan, yaitu bisa melalui skrining talasemia sebelum melakukan pernikahan (pranikah).

Staf Divisi Hematologi Anak RSCM, dr Pustika Amalia W, SpA(K) menyebutkan ada sekitar 5-15 persen pembawa sifat atau carrier talasemia di Indonesia. Seorang pembawa sifat memang tak terlihat memiliki gejala, namun apabila ia menikah dengan seorang carrier juga maka risiko memiliki anak terkena talasemia mayor akan sangat besar.

"Persentasenya 25 persen bisa anaknya normal, 25 persen anaknya sakit (talasemia mayor), 50 persen anaknya pembawa sifat. Tapi yang perlu diinget ini sifatnya kayak lempar dadu, bisa aja normal semua, atau sakit semua. Menikah itu adalah hak, tapi paling tidak orang tuanya aware, kalau dia menikah lalu punya bayi dan butuh transfusi (karena mengidap talasemia), itu mau gimana? Secara psikososial, punya anak seperti itu, sekolahnya terhambat, mesti transfusi, kan biaya pergi transfusi itu kan biaya sendiri. Itu mau dari mana? Istilahnya orang kaya juga bisa jadi miskin," terangnya.

Ia mencontohkan seperti di Thailand. Sebagai negara dengan prevalensi talasemia tertinggi di Asia Tenggara sudah dimulai pencegahan lewat skrining pada ibu hamil atau pre-natal diagnosis (PND). Lalu di negara Siprus dan Iran yang memiliki jumlah pasien talasemia terbanyak di dunia juga sudah mewajibkan skrining talasemia sebelum menikah.

"Di negara Siprus itu, mereka kalau mau menikah harus bawa surat skrining. Sudah diskrining atau belum, kalau nggak gerejanya nggak mau kasih nasehat perkawinan. Kalau ternyata kedua pasangan adalah pembawa, nggak boleh kawin," tutur wanita yang akrab disapa dr Lia ini.

Kedua negara tersebut termasuk dalam 'sabuk talasemia', yakni negara-negara yang berisiko tinggi talasemia, seperti Indonesia. Di Iran juga diberlakukan PND pada wanita yang telanjur hamil, yaitu dengan cara mengetes air ketuban, apakah sang bayi berpotensi lahir normal, sakit atau hanya jadi pembawa sifat.

Soal pencegahan, Siprus dan Iran bahkan sampai membuat fatwa agama bahwa memperbolehkan aborsi namun dengan syarat masih berusia di bawah 17 minggu dan berpotensi sakit. Fatwa itu diputuskan karena pada usia tersebut bayi dianggap belum memiliki jiwa, dan menghindari akan menjadi beban baik negara maupun keluarga sendiri.



Beban biaya bagi pasien talasemia cukup besar, belum lagi harus melakukannya seumur hidup. Talasemia tercatat sebagai penyakit nomor 5 boros biaya BPJS Kesehatan, dengan beban biaya 1,8 triliun rupiah dari tahun 2014-2017. Karena kekurangan sel darah merah maka pasien harus melakukan transfusi darah dan pengobatan, salah satunya bisa menggunakan transplantasi sumsum tulang namun biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 400 juta rupiah.

Sehingga cara termudah dan termurah adalah melakukan skrining talasemia secara dini, yakni sebelum menikah. Hingga kini memang skrining talasemia belum wajib untuk pemeriksaan pranikah, namun dr Lia mengatakan bahwa ke depannya ingin Indonesia juga memberlakukan wajib skrining seperti negara lainnya.

Biaya untuk skrining sekitar 400 ribu rupiah jika dilakukan di laboratorium atau klinik swasta. Serta dapat menghindari kemungkinan menikah dengan sesama pembawa sifat talasemia. Pada pasangan yang sudah menikah namun belum mempunyai keturunan juga boleh melakukan skrining, namun diharapkan memiliki kesadaran dan pengetahuan soal risiko yang akan terjadi apabila positif sebagai pembawa sifat tersebut.

"Jadi memang sebetulnya yang mesti kita galakkan adalah skrining, kesadaran untuk membuka mata untuk tahu talasemia itu apa sehingga mau melakukan skrining. Jika terus naik, sudah dihitung-hitung di tahun 2020 bisa-bisa akan ada 25.000 pasien talasemia," tutup dr Lia.


Mengapa Sangat Penting untuk Melakukan Skrining Pranikah Talasemia?
(frp/up)
News Feed