Kamis, 29 Nov 2018 17:37 WIB

Duh! Warga Pedalaman NTT Belum Semua Pakai Jamban untuk BAB

Widiya Wiyanti - detikHealth
Warga NTT membuat jamban (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth)
Manggarai - Indonesia masih bertarung untuk melenyapkan budaya buang air besar (BAB) sembarangan. Pasalnya, menurut data UNICEF tahun 2012 menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan kedua dengan populasi BAB sembarangan.

Hal ini terbukti bahwa masyarakat di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu di beberapa desa Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai masih banyak yang tidak memiliki jamban di rumahnya masing-masing.

"Masih, masih banyak yang sanitasinya kurang," ujar dr Nurmala Sari, dokter Nusantara Sehat yang mengabdi di Puskesmas Beamese, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, Rabu (28/11/2018).



Ketua Pemda Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) daerah NTT, M.J Takesan, SKM, MKes mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat BAB sembarangan dikarenakan mereka mayoritas memiliki hewan peliharaan yang dapat membantu mengubur feses-feses dari BAB manusia, seperti babi dan anjing.

"Ada babi ada anjing, itu yang pertama. Yang kedua karena mereka kalau mau buang hajat di tempatnya merasa awam. Awamnya di jamban yang sudah jadi, mereka merasa nggak enak karena kebiasaan, itu juga jadi faktor penghambat," jelas John.

Mata pencaharian masyarakat di daerah tersebut kebanyakan hanya sebagai petani yang memiliki tingkat ekonomi cukup rendah. Itu juga yang disebut John menjadi salah satu faktor masyarakat tidak membuat jamban sendiri di rumahnya.

"Karena medannya cukup sulit, mau dapat duit dari mana? Makan saja nggak ada, ini masih syukur ada air, di daerah lain nggak ada air," tutur John.

"Terus kita tuntut ada jamban, makan aja nggak ada," lanjutnya.

Akhirnya, ahli sanitasi dari Nusantara Sehat membantu masyarakat melalui pembinaan kepada masyarakat untuk membuat jamban sederhan sendiri. Sehingga, semua masyarakat di daerah tersebut bisa memiliki jamban sendiri dan terbebas dari kebiasaan BAB sembarangan.

(wdw/up)