Senin, 03 Des 2018 12:41 WIB

Berawal dari Turunkan Demam, Terapi Sentuhan 'HTHT' Punya Beragam Manfaat

Rosmha Widiyani - detikHealth
Terapi sentuhan HTHT. Foto: Rosmha Widiyani/detikHealth Terapi sentuhan 'HTHT'. Foto: Rosmha Widiyani/detikHealth
Jakarta - Layaknya ibu kebanyakan, anak yang demam tentu mengundang kekhawatiran. Founder terapi sentuhan How to Handle Them (HTHT) juga merasakan hal serupa. Buah hatinya yang bernama Drumas Arshabillawan demam namun tak kunjung turun.

"Drumas demam tinggi saat usianya tiga hari setelah lahir. Saya coba atasi dengan segala macam obat dan ke dokter tapi tidak kunjung turun. Di tengah rasa khawatir saya dekap terus Drumas yang ternyata justru menurunkan suhu tubuhnya," kata health advisor Octorina Basushanti dalam seminar tentang HTHT di Depok, Jawa Barat, Sabtu (2/12/2018).

Mendapati hasil yang positif ini, Octo akhirnya meneliti lebih lanjut tentang efek sentuhan pada orang lain. Menurut Octo, dia sempat mengalami trial and error sebelum yakin tentang efek dan area yang bisa disentuh. Termasuk Drumas, Octo telah mencoba terapi sentuhan ini pada kurang lebih seribu orang.



Terapi sentuhan HTHT yang disebut Octo Touch ini telah mendapat hak paten dari pemerintah Indonesia. Menurut Octo, terapi HTHT tak hanya untuk anak berkebutuhan khusus. Orang dengan keterbatasan fisik dan mental usai pengobatan tertentu, misal paskastroke, bisa menerapkan terapi ini.

Pesan positif lewat sentuhan dapat membantu orang dengan keterbatasan kembali bangkit dan menyingkirkan halangan psikologis, misal rasa tidak mampu, rendah diri, dan stigma buruk lainnya.

Menurut Octo, dasar terapi HTHT yang berupa sentuhan sebetulnya sudah dimiliki setiap orang. Namun tidak semua orang tahu cara dan bagian tubuh yang sebaiknya disentuh. Sentuhan dalam HTHT adalah kontak penuh dengan penularan semangat melalui kalimat positif. Misal, orang tua yang mendekap seluruh tubuh anak sambil mengucapkan pintar, baik, atau cakap.

Dekapan menimbulkan efek bahagia yang lebih besar daripada pelukan. Selanjutnya orang tua bisa sesering mungkin mendekap anaknya yang mengalami keterbatasan. Hal serupa bisa diterapkan pada orang yang awalnya normal namun mengalami keterbatasan, akibat penyakit atau sedang dalam proses penyembuhan.

Octo yakin sentuhan penuh kasih sayang akan berefek baik bagi tiap orang dengan keterbatasan. Octo telah membuktikannya lewat Drumas yang kini mampu mengakifkan kemampuan motorik halus, main drum, dan menguasai bahasa asing. Drumas telah didiagnosis cerebral palsy artrofi, epilepsi, dan buta sebelah kanan. Drumas yang kini berusia 16 tahun sebelumnya divonis hanya bisa hidup hingga 6 tahun.




(Rosmha Widiyani/wdw)