Penelitian yang dilakukan oleh University of Utah Health mengemukakan beberapa dari mereka berbohong untuk menghidari dihakimi, terlalu malu untuk mengatakan yang sebenarnya atau hanya tidak ingin diceramahi tentang betapa buruk gaya hidup mereka.
Menurut penelitian ini, ketika pasien berbohong kepada dokter akan mengakibatkan masalah yang serius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi tahu nggak, ternyata dokter juga pernah berbohong ke pasien mereka. Berdasarkan riset yang dilakukan peneliti Massachusetts General Hospital tahun 2012 silam yang melibatkan kurang lebih 1.900 dokter, kebanyakan mereka berbohong ketika membahas prognosis pasien.
Prognosis adalah istilah medis untuk memprediksi hasil kemungkinan penyakit yang melibatkan penjelasan secara rinci. Berdasarkan hasil riset, banyak dokter yang memberikan prediksi terlalu optimistis kepada pasiennya.
"Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan dan keinginan pasien mungkin tidak selalu menjadi perhatian pertama dari dokter. Sampai semua dokter mengambil pendekatan yang jujur dan terbuka, maka akan sangat sulit untuk memberlakukan perawatan yang terpusat pada pasien secara lebih luas," kata Dr Lisa Iezzoni, profesor kedokteran dari Harvard Medical School, dilansir dari EverydayHealth, Jumat (10/2/2012).
Menurut Liza, pasien yang tidak mendapatkan cerita lengkap tidak mungkin dapat membuat pilihan informasi mengenai tindakan yang terbaik untuk perawatannya.
Meskipun sebagian besar dokter yang disurvei berpikir dokter harus benar-benar menceritakan kepada pasien mengenai risiko dan manfaat pengobatan. Namun banyak yang mengakui bahwa tidak selalu mengikuti standar tersebut ketika berhadapan dengan pasiennya.
Kalau kamu, termasuk yang bohong atau dibohongi? Semoga nggak dua-duanya ya, sehat selalu! (up/up)











































