Jerawat hingga Rambut Rontok, 5 Tanda Stres yang Kerap Terabaikan

Jerawat hingga Rambut Rontok, 5 Tanda Stres yang Kerap Terabaikan

Rosmha Widiyani - detikHealth
Rabu, 12 Des 2018 09:10 WIB
Jerawat hingga Rambut Rontok, 5 Tanda Stres yang Kerap Terabaikan
Ilustrasi stres. Foto: Getty Images
Jakarta - Kaget rambut tiba-tiba rontok atau muncul jerawat? Bisa jadi kamu sedang stres akibat kesibukan yang terus meningkat. Dikutip dari Health Line, stres didefinisikan sebagai ketegangan mental dan emosi yang disebabkan kondisi lingkungan sekitar.

Sebuah riset melaporkan, sebanyak 33 persen orang dewasa mengalami tingkat stres yang tinggi. Stres perlahan mempengaruhi fungsi tubuh yang terlihat dalam kondisi kesehatan sehari-hari. Meski sering sembuh sendiri, tak ada salahnya mengonsultasikan gangguan fisik pada dokter.

Berikut tanda fisik yang kerap muncul akibat stres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jerawat

Foto: Dok. Thinkstock
Jerawat adalah tanda yang paling sering muncul saat dilanda stres. Sebuah riset membandingkan pertumbuhan jerawat 22 siswa sebelum dan setelah ujian. Jerawat mulai tumbuh menjelang ujian akibat stres.

Saat tertekan, seseorang punya kecenderungan lebih sering menyentuh wajah. Kebiasaan ini membantu penyebaran bakteri yang memicu tumbuhnya jerawat. Stres juga memicu perubahan hormon hingga jerawat mudah tumbuh. Jerawat akibat stres biasanya hilang sendiri seiring perubahan emosi.

Rambut rontok

Foto: iStock
Ada tiga kondisi rambut rontok yang berhubungan dengan stres. Pertama adalah telogen effluvium yang diakibatkan stres intens, hingga rambut rontok saat keramas atau menyisir. Kedua adalah trichotillomania yaitu dorongan menarik rambut atau alis saat stres.

Ketiga adalah alopecia areata, yaitu kondisi stres yang menyerang sistem imun tubuh hingga menyebabkan kerontokan rambut. Kondisi rambut rontok akibat stres biasanya sembuh sendiri bila mampu mengontrol emosi yang tertekan.

Sakit yang berulang

Foto: Thinkstock
Stres bisa mengganggu kerja sistem imun hingga tubuh lebih mudah terinfeksi bakteri. Salah satu akibatnya, orang stres lebih mudah mengalami pilek atau sakit lain hingga berulang kali.

Sebuah riset membagi 235 responden dalam kelompok dengan tingkat stres tinggi dan rendah. Sebanyak 70 persen responden di kelompok stres tinggi mengalami infeksi paru. Selain itu, 61 persen responden membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Namun, stres hanya menjadi salah satu penyebab sakit.

Perubahan libido

Foto: iStock
Periode stres sering kali menurunkan dorongan seks pada pria dan wanita. Sebuah riset pernah dilakukan pada 30 wanita usai menonton film porno. Hasilnya dorongan seks responden yang mengalami stres kronis tidak sebesar wanita yang bebas stres.

Namun, stres bukan menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan perubahan libido. Produksi hormon, lelah, dan faktor psikologis lainya ikut mempengaruhi dorongan aktivitas seksual.

Gangguan pencernaan

Foto: iStock
Masalah pencernaan menjadi kondisi lain yang ikut muncul akibat stres. Sebuah riset sempat dilakukan pada 2.699 anak yang merasa stres akibat sekolah dan berbagai aktivitas lainnya. Hasilnya mereka lebih berisiko terkena kesulitan buang air besar atau konstipasi.

Selain konstipasi, masalah pencernaan lain yang kerap muncul adalah diare, kembung, dan sakit perut. Masalah pencernaan akibat stres biasanya sembuh seiring redanya tekanan. Namun, kondisi ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter sebelum mengganggu aktivitas sehari-hari.

Halaman 2 dari 6
Jerawat adalah tanda yang paling sering muncul saat dilanda stres. Sebuah riset membandingkan pertumbuhan jerawat 22 siswa sebelum dan setelah ujian. Jerawat mulai tumbuh menjelang ujian akibat stres.

Saat tertekan, seseorang punya kecenderungan lebih sering menyentuh wajah. Kebiasaan ini membantu penyebaran bakteri yang memicu tumbuhnya jerawat. Stres juga memicu perubahan hormon hingga jerawat mudah tumbuh. Jerawat akibat stres biasanya hilang sendiri seiring perubahan emosi.

Ada tiga kondisi rambut rontok yang berhubungan dengan stres. Pertama adalah telogen effluvium yang diakibatkan stres intens, hingga rambut rontok saat keramas atau menyisir. Kedua adalah trichotillomania yaitu dorongan menarik rambut atau alis saat stres.

Ketiga adalah alopecia areata, yaitu kondisi stres yang menyerang sistem imun tubuh hingga menyebabkan kerontokan rambut. Kondisi rambut rontok akibat stres biasanya sembuh sendiri bila mampu mengontrol emosi yang tertekan.

Stres bisa mengganggu kerja sistem imun hingga tubuh lebih mudah terinfeksi bakteri. Salah satu akibatnya, orang stres lebih mudah mengalami pilek atau sakit lain hingga berulang kali.

Sebuah riset membagi 235 responden dalam kelompok dengan tingkat stres tinggi dan rendah. Sebanyak 70 persen responden di kelompok stres tinggi mengalami infeksi paru. Selain itu, 61 persen responden membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Namun, stres hanya menjadi salah satu penyebab sakit.

Periode stres sering kali menurunkan dorongan seks pada pria dan wanita. Sebuah riset pernah dilakukan pada 30 wanita usai menonton film porno. Hasilnya dorongan seks responden yang mengalami stres kronis tidak sebesar wanita yang bebas stres.

Namun, stres bukan menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan perubahan libido. Produksi hormon, lelah, dan faktor psikologis lainya ikut mempengaruhi dorongan aktivitas seksual.

Masalah pencernaan menjadi kondisi lain yang ikut muncul akibat stres. Sebuah riset sempat dilakukan pada 2.699 anak yang merasa stres akibat sekolah dan berbagai aktivitas lainnya. Hasilnya mereka lebih berisiko terkena kesulitan buang air besar atau konstipasi.

Selain konstipasi, masalah pencernaan lain yang kerap muncul adalah diare, kembung, dan sakit perut. Masalah pencernaan akibat stres biasanya sembuh seiring redanya tekanan. Namun, kondisi ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter sebelum mengganggu aktivitas sehari-hari.

(Rosmha Widiyani/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads