Rabu, 12 Des 2018 12:35 WIB

Ngeri! Pusing Usai ke Chiropratic, Ternyata Ada Kista di Otak Kiri

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ngeri! Pusing usai ke chiropratic, ternyata ada kista di otak kiri. Foto: thinkstock Ngeri! Pusing usai ke chiropratic, ternyata ada kista di otak kiri. Foto: thinkstock
Jakarta - Seorang dokter menemukan kista besar di otak kiri seorang wanita usai ia menjalani prosedur chiropractic, sebuah metode terapi dengan berfokus pada pengkoreksian tulang belakang, otot, dan persendian. Diduga kista tersebut sudah berada di sana bertahun-tahun

Wanita ini melaporkan gejala pusing, linglung dan pandangan buram selama tiga bulan. Gejala ini dimulai tepat setelah ia menjalani 'cervical spine manipulation' di chiropractic, sebuah prosedur chiropractic umum yang digunakan untuk menangani nyeri leher dan punggung.

Ia lalu memeriksakan diri ke rumah sakit dan melakukan CT scan pada otaknya, yang menunjukkan adanya kista besar di bagian depan otak kirinya. Secara spesifik, dokter menyebut wanita tersebut memiliki kista arachnoid, sebuah 'kantung' berisi cairan cerebrospinal di salah satu membran yang menutupi otak dan saraf tulang belakang.


Kista ini biasanya bawaan, yang berarti seseorang telah memilikinya sejak ia lahir. Kebanyakan pengidapnya tidak mengalami gejala apapun, namun jika ada, umumnya muncul saat masa kanak-kanak, menurut National Organization for Rare Disorders (NORD).

Kebanyakan kista arachnoid tidak berubah ukuran dan pengobatan tidak diperlukan jika tidak ada gejala. Namun karena wanita ini telah mengalaminya, disarankan untuk menjalani pembedahan untuk membuka kista agar cairannya keluar, sehingga gejalanya bisa hilang.

"Masih belum jelas apakah gejala yang dialami wanita tersebut disebabkan atau dipicu oleh prosedur chiropractic tersebut. Namun ada kemungkinan kaitan di antara keduanya," kata Dr Scott McAninch, ketua penulis laporan kasus wanita tersebut dan dokter gawat darurat di Baylor Scott & White Medical Center Texas, dikutip dari Fox News.

Namun Dr McAninch mengatakan tujuannya bukan untuk mengkritisi prosedur tersebut, akan tetapi untuk mengidentifikasi kemumgkinan komplikasi yang tak terduga sehingga penyelia dan pasien dapat memahami risiko dan manfaat dari praktek tersebut, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang lebih tepat dalam pilihan pengobatan, pungkasnya.

(frp/up)
News Feed