"Kalau diingat, kantor saya dulu kecil dan penuh asap rokok. Orang di sekitar saya hampir semuanya merokok, hingga aromanya menempel di baju. Mungkin dari situlah saya yang tidak merokok bisa kena kanker paru," kata Sutopo dalam acara Seminar Sehari Kewaspadaan dan Deteksi Kanker Paru pada Layanan Primer di Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Persahabatan, Minggu (16/12/2018).
Pengalaman Sutopo membuktikan, rokok dan asapnya tidak hanya menjadi faktor risiko kanker paru bagi pengisapnya tapi lingkungan sekitar. Menurut dokter ahli paru dari RSUP Persahabatan dr Elisna Syahruddin PhD, paparan asap rokok ikut memicu pertumbuhan sel kanker (karsinogen) pada second hand smoker. Zat karsinogen dalam asap rokok juga kerap tertinggal dalam perlengkapan rumah tangga, yang menyebabkan mereka yang tidak merokok menjadi third hand smoker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain paparan asap rokok, dr Elisna menyebut tiga faktor kanker paru lain pada orang yang bukan perokok. Faktor ini bisa dikendalikan untuk menekan risiko kanker paru. Faktor pertama adalah polusi dalam ruangan yang bisa berasal dari asap dapur, penggunaan asbes, dan obat nyamuk bakar. Faktor risiko ini bisa ditekan dengan membuat saluran pembuangan, membuka jendela, atau ventilasi untuk pertukaran udara.
Faktor kedua adalah polutan dari luar ruangan yang bisa berasal dari asap mesin, kendaraan, industri, kebakaran hutan, dan lahan. Faktor lainnya adalah paparan zat pemicu kanker di lingkungan kerja pabrik dan pertambangan. Faktor ini bisa ditekan dengan tidak tinggal di lingkungan tersebut, atau menggunakan masker saat melewati kawasan berpolusi tinggi.
Simak juga video 'Tips Jaga Anak Menghindari Budaya Merokok':











































