Jumat, 21 Des 2018 08:35 WIB

Pekerja Informal Rentan Masalah Kesehatan, Cacingan Salah Satunya

Kireina S. Cahyani - detikHealth
Pengrajin gerabah di Lombok mendapatkan bantuan dari Pos Usaha Kesehatan Kerja. (Foto: Istock)
Jakarta - Menjalani pekerjaan informal memang dinilai tidak memiliki waktu yang pasti. Untuk menjaga kebugaran tubuh para pekerja informal ini Kementerian RI juga memiliki upaya untuk menjaga kualitas kesehatan pekerja dengan membangun Pos Usaha Kesehatan Kerja (UKK) di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesjaor), drg Kartini Rustandi, M.Kes, upaya ini merupakan sebuah tindakan preventif untuk melindungi pekerja dari gangguan kesehatan dan pengaruh buruk akibat pekerjaan yang dilakukannya itu.

"Iya seperti kami buat Pos UKK untuk para petani. Para petani ini kan berjalan di tanah, kami beritahu untuk pakai sepatu boot, lalu menyemprot pestisida, maka kami beritahukan untuk memakai masker serta menjelaskan manfaatnya, dan kacamata menghindari katarak oleh sinar matahari," tutur drg Kartini saat diwawancarai detikHealth di acara Media Briefing 'Mengenal Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga', Kamis, (20/12/2018).

Kemudian drg Kartini pun memaparkan bahwa upaya membangun Pos UKK ini ternyata sangat berpengaruh. Terutama di daerah Banyumulek, Lombok.

"Pos UKK ini ternyata sangat baik dampaknya. Mereka ini kan para pengrajin gerabah. Bahkan gerabahnya sudah banyak dikenal hingga tingkat internasional. Otomatis setiap harinya ia membuat gerabah menggunakan tangannya, karena tidak bisa bila menggunakan sarung tangan, nah angka penderita cacingan di desa ini persentasinya menurun karena adanya Pos UKK ini," ucap drg Kartini.

drg Kartini menuturkan bahwa upaya yang dilakukan pos UKK ini memberikan informasi bahwa seharusnya para pengrajin ini sehabis selesai membuat gerabah, wajib untuk mencuci tangannya hingga bersih sampai kuku-kuku tangannya. Sehingga persentasi angka penderita cacingannya menurun.



"Biasanya 10 orang yang diperiksa, 7 orang yang mengalami cacingan. Namun sekarang 20 orang yang periksa menurun menjadi 3 orang yang mengalami cacingan," ujar drg Kartini.

Kemudian drg Kartini juga menjelaskan bahwa persentasi angka penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah ini turun. Biasanya perapian untuk membakar gerabah ada di masing-masing rumah pengrajin. Namun setelah diberikan sosialisasi akhirnya menemukan solusi terbaiknya.

"Sekarang perapiannya hanya ada satu, itu pun juah dari permukiman warga, jadi apabila ingin membakar gerabahnya ya semuanya datang ke tempat tersebut, sehingga penyakit ISPA yang banyak diderita warga ini semakin berkurang," pungkas drg Kartini.

(up/up)