Minggu, 23 Des 2018 17:47 WIB

Menyampaikan Duka Cita Tapi Korban Belum Ditemukan, Bagaimana Etikanya?

Kireina S. Cahyani - detikHealth
Empati harus selalu dikedepankan saat mengungkapkan bela sungkawa (Foto: iStock)
Jakarta - Dalam suasana duka, niat baik saja kadang tidak cukup untuk mengekspresikan bela sungkawa. Ada kalanya harus sensitif dalam memilih cara agar tidak malah menyinggung perasaan.

Termasuk dalam musibah tsunami di Pantai Anyer, Banten, yang terjadi pada akhir pekan ini. Sejumlah korban jiwa berjatuhan, dan sebagian lagi masih hilang belum diketahui nasibnya.

Mengungkapkan duka cita untuk korban yang sudah dipastikan meninggal mungkin lebih mudah. Tapi bagaimana dengan korban yang masih hilang, dan masih ada kemungkinan ditemukan dalam keadaan selamat?

Apapun kemungkinannya, kerabat yang menanti kejelasan kabar tentu tengah bersedih. Psikolog dari Universitas Indonesia Bona Sardo menyebut, etikanya sama saja seperti menyampaikan bela sungkawa pada umumnya, antara lain dengan disertai harapan tertentu.

"Menyesuaikan saja dengan kondisi korban," saran Bona saat dihubungi detikHealth, Minggu (23/12/2018).



Pastinya tidak boleh mengasumsikan bahwa korban sudah meninggal, sebelum benar-benar ditemukan. Demikian juga, terlalu membesar-besarkan harapan bahwa korban akan ditemukan dalam kondisi selamat juga bukan tanpa risiko.

"Sama saja kayak di bahasa Inggris: 'I'm so sorry for what happen in Sunda Strait. Saya turut prihatin/berduka atas kejadian tsunami di Selat Sunda. Semoga korban dapat segera ditemukan'," tambahnya.



Tonton video 'Ribuan Santri Probolinggo Gelar Doa Bersama untuk Korban Tsunami':

[Gambas:Video 20detik]

Menyampaikan Duka Cita Tapi Korban Belum Ditemukan, Bagaimana Etikanya?
(up/up)