Rabu, 26 Des 2018 17:27 WIB

Ironis, Angka Harapan Hidup Jepang Tinggi Tapi Populasi Menurun

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi lansia di Jepang. Foto: Aisyah Kamaliah Ilustrasi lansia di Jepang. Foto: Aisyah Kamaliah
Jakarta - Statistik pemerintahan Jepang menunjukkan penurunan populasi alamiahnya tahun ini. Sebelumnya, Jepang juga tercatat memiliki tingkat kelahiran yang cukup rendah, disebabkan perkiraan jumlah bayi yang lahir pada tahun 2018 menurun menjadi 921 ribu, terendah sejak 1899, demikian dilaporkan CNN.

Laporan ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang. Jumlah bayi baru lahit tersebut diperkirakan juga menyusut sekitar 25 ribu dari 2017. Kematian di tahun 2018 juga mencapai rekor tertinggi usai perang, yakni 1,369 juta jiwa, dengan penurunan populasi sejumlah 448 ribu, tertinggi yang pernah ada.

Hal ini cukup ironis di mana Jepang menjadi salah satu negara dengan angka harapan hidup yang cukup tinggi dan di mana lebih dari 20 persen populasinya berusia di atas 65 tahun. Total populasi Jepang pada tahun 2018 mencapai 124 juta jiwa, namun diperkirakan akan turun menjadi sekitar 88 juta jiwa.


Berbagai alasan yang menjadi penyebab antara lain seperti faktor menurunnya tingkat fertilitas dan keengganan menikah. Kini, pemerintah Jepang sedang berjuang mempertahankan angka fertilitas yang jatuh pada rentang 1,4 sejak tahun 2012, di mana mereka harus mencapai target 1,8 pada akhir 2025.

"Karena jumlah wanita berusia 20 dan 30-an berkurang, nampaknya sulit untuk langsung menaikkan angka kelahiran," tutur juru bicara dari Kementerian.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan pada 2017 untuk mengembangkan preschool gratis dengan biaya 2 triliun yen atau setara dengan 265 triliun rupiah untuk anak-anak berusia 2 tahun dan berasal dari keluarga miskin. Ia mengharapkan dengan strategi ini bisa mencegah penurunan jumlah populasi di bawah 100 juta di tahun 2060 nanti.

(frp/up)