Jumat, 28 Des 2018 12:06 WIB

Waspadai Silikosis, Efek Jangka Panjang Akibat Menghirup Debu Vulkanik

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Debu vulkanik yang disebabkan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. (Foto: Antara Foto) Debu vulkanik yang disebabkan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. (Foto: Antara Foto)
Jakarta - Selain asma, bronkitis, pneumonia, infeksi saluran napas atas, efek lain yang timbul akibat terhirup debu vulkanik akibat khususnya saat erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini adalah silikosis.

"Efek jangka panjang yg berbahaya adalah silikosis. Debu silika yg bisa masuk ke dalam paru atau alveoli akan dapat menyebabkan silikosis," tutur dr Feni Fitriani Taufik, Sp P(K), M Pd Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan, FKUI- RSUP Persahabatan, saat dihubungi oleh tim detikHealth belum lama ini.

dr Feni menambahkan, debu vulkanik juga mengandung salah satunya silika dengan berbagai ukuran. Seiring waktu, silika dapat menumpuk di paru-paru dan saluran pernapasan yang membuat napas menjadi sesak.

Gejala silikosis dapat muncul beberapa minggu hingga bertahun-tahun setelah terpapar debu silika. Gejala akan memburuk dari waktu ke waktu sebab debu telah merusak sistem pernapasan.



Dikutip dari Lung.org, batuk adalah gejala awal yang timbul ketika menghirup debu silika. Pada silikosis akut, terdapat gejala seperti demam dan nyeri dada berbarengan dengan kesulitan bernapas yang bisa datang kapan saja.
Lebih dari sepertiga penderita silikosis mengalami produksi dahak dan batuk.

"Pasien dengan silikosis memiliki peningkatan risiko masalah lain, seperti TBC (tuberkulosis), kanker paru-paru, dan bronkitis kronis," demikian dilaporkan situs tersebut.

Tetapi jangan khawatir, sebab silikosis dapat dicegah. Aliansi dokter paru mengimbau untuk selalu memakai masker untuk melindungi diri dari risiko terhirup debu vulkanik khususnya bagi yang berada di radius terdekat dari Gunung Anak Krakatau.

"Imbauan mewakili dokter paru ialah bila beraktivitas di luar rumah, usahakan untuk selalu gunakan masker. Memang yang baiknya itu menggunakan masker N95, namun dalam situasi seperti ini apapun jenis maskernya tentu akan sangat menolong. Persiapkan juga untuk masker cadangan bila masker terkena lembab, dan lain sebagainya," ucap dr Feni.





Simak juga video 'Mengharukan! Bayi 2 Bulan Dievakuasi dari Puing Rumah Efek Tsunami':

[Gambas:Video 20detik]

(kna/up)
News Feed