Selasa, 01 Jan 2019 14:30 WIB

Punya Fobia atau Hanya Takut? Begini Cara Membedakannya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Fobia atau takut doang? Foto: Instagram Fobia atau takut doang? Foto: Instagram
Jakarta - Takut merupakan respons normal terhadap sesuatu yang berpotensi menimbulkan bahaya. Namun, memiliki rasa takut terhadap sesuatu bukan berarti memiliki fobia. Lalu bagaimana membedakannya?

"Fobia merupakan gangguan mental yang paling umum. Seumur hidupnya, 11 persen orang pasti mengidap fobia. Fobia melibatkan pengalaman ketakutan yang terus-menerus serta berlebihan dan tidak masuk akal," tutur Reid Wilson, PhD, juru bicara American Psychological Association, dikutip dari WebMD.

Wilson melanjutkan, seseorang disebut mengalami fobia apabila ia mendapati dirinya berada dalam situasi atau mendekati objek tertentu atau bahkan mengantisipasi akan adanya hal-hal tersebut (merasa was-was berlebihan atau irasional), lalu mereka memahami ketakutan yang akan mereka alami sebagai akibatnya.


Beberapa fobia sudah banyak dikenali, beberapa belum, namun apapun fobianya, pengidapnya selalu hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Kunci untuk membedakan rasa takut dan fobia munculnya reaksi secara fisik maupun psikologis. Jika hanya merespons panik, kemungkinan besar hanya merasa takut.

Ditambahkan oleh Wilson, untuk bisa disebut fobia, rasa takut yang dialami harus menyebabkan sebuah keadaan di mana pengidapnya menjadi lemah. Misalnya, seorang wanita yang mengidap arachnophobia (fobia laba-laba) tidak mau keluar pada malam hari karena tidak dapat melihat jika ada laba-laba.

Kathy Hoganbruen, PhD, dari National mental Health Association menyebutkan belum diketahui penyebab fobia. Namun alamiah (dari genetik) dan pembawaan saat tumbuh besar memiliki peran tertentu. Dan juga lingkungan, misalnya seseorang mengalami hal-hal traumatis atau negatif yang terkait.

Baca juga:

Dalam kasus tertentu, fobia juga bisa merusak kehidupan seseorang. Merupakan fobia parah karena rasa takut itu sendiri sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Maka dari itu dibutuhkan penanganan yang tepat, misalnya menggunakan cognitive-behavioral treatment.

"Kini kita semakin provokatif dalam menangani pengidap fobia. Menggunakan cognitive-behavioral treatment ketimbang membuat seseorang rileks saat terpapar stimulus, kami mengajarkan mereka bagaimana mengatur perasaan mereka sendiri," imbuh Wilson.

"Mudah, jika kamu mengubah caramu berpikir, akan mengubah caramu berperilaku. Dan jika caramu berperilaku berubah, maka begitu pula dengan caramu berpikir."

Dengan kemajuan zaman, kini para pengidap fobia juga bisa ditangani melalui virtual reality (VR). Menggunakan terapi VR, pengidap akan diarahkan untuk memegang laba-laba virtual sembari menyentuh model realistis di dunia nyata. Metode terapi ini diklaim menurunkan sejumlah besar kecemasan pada pengidap fobia.

(frp/fds)