Rabu, 09 Jan 2019 13:29 WIB

Rela Bayar Prostitusi Rp 80 Juta, Tanda Kecanduan Seks?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi kecanduan seks. Foto: ilustrasi/thinkstock Ilustrasi kecanduan seks. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Tingginya tarif prostitusi artis online yang mencapai Rp 80 juta masih jadi perbincangan hangat masyarakat. Apalagi kasus prostitusi ini juga melibatkan seorang artis berinisial VA.

Menurut psikolog klinis David J Ley, seorang pelanggan jasa prostitusi berisiko besar mengalami kecanduan seks. Kecanduan mengakibatkan pelanggan mau menerima risiko akibat menggunakan jasa prostitusi, misal membayar mahal atau terinfeksi penyakit menular seksual.

"Perilaku membayar jasa prostitusi atau membeli seks sebetulnya membuktikan adanya ketergantungan. Perilaku ini harus segera diterapi sebelum lebih banyak merugikan penderita dan orang di sekitarnya," kata Ley yang juga penulis buku Insatiable Wives: Women Who Stray and the Men Who Love Them dikutip dari Psychology Today.


Kecanduan seks atau sex addiction diartikan sebagai kondisi, saat seseorang tidak bisa mengatur perilaku seksualnya. Pikiran soal seks yang tak kunjung reda ini menganggu aktivitas sehari-hari, penyelesaian tugas, dan membina hubungan baik.

Ley bersama rekannya Jacquie Aitken terlibat dalam program yang disebut John School. Program yang dilaksanakan bersama pemerintah Kanada ini, bertujuan memperbaiki pikiran dan tingkah laku mereka yang menjadi pelanggan prostitusi. Sebanyak 104 pria dari berbagai usia dan latar belakang yang mengikuti program ini diketahui merupakan pelanggan pada satu atau lebih jasa prostitusi.

Program ini memberikan konseling kepada mereka yang mengalami ketergantungan seks. Konseling bertujuan membantu pengendalian hal yang memicu perilaku sex addiction, hingga akhirnya menggunakan jasa prostitusi. Misal mengatur stres, mengidentifikasi hal yang memicu pikiran seksual, dan menemukan jalan keluar dari perilaku ketergantungan seks.

Program juga menyertakan pentingnya pria memiliki hubungan seks yang sehat serta sikap yang baik. Menurut Ley, program ini cukup berhasil karena peserta tak pernah lagi berhubungan dengan pihak berwajib karena prostitusi. Kendati begitu, program ini harus terus diperbaiki menyikapi makin mudahnya mengakses prostitusi.

(up/up)
News Feed