Siyu mengaku merasa selama ini sering merasa tertekan dengan kehidupan sekolah. Setelah mendengar kabar ada tempat di mana orang-orang bisa meluapkan emosinya dengan menghancurkan barang-barang, Qiu pergi mengajak teman.
"Rasanya sangat menyenangkan bisa menghancurkan botol-botol dan melihatnya meledak," kata Qiu seperti dikutip dari Reuters, Senin (14/11/2018).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengunjung cukup membayar sekitar Rp 100 ribu untuk menghabiskan waktu setengah jam di ruang marah. Staf akan menyediakan pakaian pelindung, palu atau kayu pemukul, dan musik pilihan pelanggan untuk diputar.
Pendiri Smash, Jing Meng (25), mengatakan apa yang dilakukannya bukan untuk mempromosikan kekerasan. Ia ingin membantu orang-orang melepas stres dari kehidupan di perkotaan.
Foto: Reuters
"Pernah ada seorang wanita yang datang dengan foto-foto pernikahannya lalu dihancurkan semua. Kami terbuka bila ada yang datang dengan barang pribadi mereka," kata Jing.
"Setiap kali kami menemukan kasus seperti itu, kami semakin yakin bahwa kami sudah menyediakan tempat yang aman bagi mereka untuk menyalurkan energi negatif," lanjutnya.
Setiap bulan ruang Smash bisa didatangi sampai 600 pengunjung. Jumlah tersebut diprediksi akan semakin meningkat dengan kehidupan kota yang semakin padat dengan persaingan.











































