"Orang yang cenderung lebih suka sendiri bukan berarti tidak butuh teman. Sebagai makhluk sosial, mereka perlu teman namun tidak banyak atau terlalu ramai," kata pimpinan riset serta profesor manajemen dan organisasi di University of Western Ontario Julie Aitken Schermer.
Secara umum kepribadian sesoranng terbagi atas lima dimensi. Kelimanya adalah keterbukaan (openess), berhati-hati (conscientiousness), dominan patu (extraversion), kooperatif (agreeableness), dan emosi negatif (neuroticism). Sendiri dan tertutup terkait dengan kecenderungan memiliki karakter neuroticism.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu anak berhasil memperoleh teman, menikmati masa belajar di kelas, dan mengatasi kesendirian. Sedangkan yang lain cenderung tertutup sehingga beda jauh dengan kembarannya. Perbedaan ekspresi ini mengakibatkan perbedaan level kesendirian yang dirasakan responden.
Hasil riset juga menegaskan kecilnya pengaruh DNA pada pembentukan karakter sendiri dan tertutup. Schermer mengumpamakannya seperti gen yang menentukan tinggi badan. Seseorang bisa saja lahir dari sepasang orangtua yang dominan pendek. Namun perbaikan nutrisi sejak dalam kandungan hingga lahir serta stimulan lainnya, memungkinkan anak yang lahir punya tinggi sedikit lebih baik.
"DNA memang berpeluang menentukan karakter penyendiri dan tertutup. Namun bukan salah DNA jika akhirnya seseorang cenderung punya sifat tersebut. Sebagai makhluk sosial, manusia sebetulnya bisa tumbuh lebih baik di lingkungan yang memungkinkan interaksi sosial," kata Schermer.












































