Minggu, 20 Jan 2019 19:15 WIB

1 Dari 5 Ribu Bayi Terlahir dengan Usus di Luar Perut, Ini Penyebabnya

Roshma Widiyani - detikHealth
1 dari 5 ribu bayi yang lahir di dunia mengalami usus di luar perut. Foto: iStock 1 dari 5 ribu bayi yang lahir di dunia mengalami usus di luar perut. Foto: iStock
Jakarta - Gastroschisis atau terlahir dengan usus berada di luar perut, saat ini menjadi perhatian pemerintah Amerika. Cacat lahir ini menunjukkan angka peningkatan sebesar 10 persen pada 2006 hingga 2010 dan 2011 hingga 2015. Secara umum, 1 dari 5 ribu bayi yang lahir di dunia mengalami gastroschisis.

Cacat ini terjadi pada masa kehamilan awal akibat dinding perut pada bayi yang belum terbentuk sempurna. Bergantung dari besarnya lubang, hati dan organ pencernaan lain kadang ditemukan di luar perut bayi. Lubang kerap ditemukan di bagian kanan dari pusar pada perut bayi.

Dikutip dari Live Science, gastroschisis lebih berisiko terjadi pada ibu yang mengonsumsi tembakau dan alkohol. Situs Centers for Disease Contol and Prevention (CDC) juga mencatat, gastroschisis lebih rentan terjadi pada ibu yang berusia muda. Belakangan CDC menemukan, gastroschisis juga berisiko pada terjadi pada bayi dengan ibu yang sempat menerima pengobatan mengandung opioid.

Opioid adalah obat penghilang rasa sakit yang bekerja dengan reseptor yang sama dalam tubuh. Obat ini berasal dari tanaman opium atau dibuat di laboratorium dari bahan fentanil. Obat diberikan dalam dosis tinggi atau rendah sesuai keperluan pasien. Penggunaan obat dalam dosis tinggi berisiko 1,6 kali lebih besar memiliki bayi dalam kondisi gastroschisis.

"Dengan riset ini kami menjadi lebih paham efek opioid, yang salah satunya menyebabkan bayi terlahir dengan kondisi gastroschisis. Kami juga lebih paham berbagai hal yang mengakibatkan gastroschisis pada bayi. Dengan temuan ini kami berharap bisa menyediakan info lebih lengkap pada tenaga kesehatan dan calon ibu, terkait gastroschisis dan risiko penggunaan opioid," kata Direktur Medis Fetal Care Center di Nicklaus Children's Hospital, Miami Saima Aftab.



Aftab mengatakan, saat ini pihaknya melanjutkan riset untuk mengetahui lebih lanjut kaitan opioid dan kehamilan. Hasil riset juga diharapkan bisa mencegah sejak dini kemungkinan bayi mengalami gastroschisis, pada ibu yang pernah atau tengah mengonsumsi opioid. Termasuk penanganan pada ibu hamil yang pernah atau masih mengonsumsi tembakau dan rokok.

Gastroschisis didiagnosis dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebelum lahir. Pemeriksaan usus adalah bagian dari evaluasi USG rutin yang dilakukan pada minggu ke-20 masa kehamilan. Gastroschisis hanya bisa ditangani dengan operasi yang bisa dilakukan secepatnya bila lubang tidak terlalu besar. Bayi selanjutnya harus dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) hingga usus bisa berfungsi normal, tidak lagi menggunakan infus, dan aman dari infeksi. Proses ini kerap memerlukan waktu hingga hitungan bulan.

(wdw/up)
News Feed