Kamis, 24 Jan 2019 16:30 WIB

Bukan Ahok Sih, Tapi 'BTP' yang Ini Juga Banyak Kontroversinya

Aisyah Kamaliah - detikHealth
BTP alias Ahok memang dikenal sebagai sosok kontroversial. Di bidang keamanan pangan, rupanya ada BTP lain yang juga tidak kalah kontroversial. Foto: iStock BTP alias Ahok memang dikenal sebagai sosok kontroversial. Di bidang keamanan pangan, rupanya ada BTP lain yang juga tidak kalah kontroversial. Foto: iStock
Jakarta - BTP (Basuki Tjahaja Purnama) alias Ahok memang dikenal sebagai sosok kontroversial. Di bidang keamanan pangan, rupanya ada BTP lain yang juga tidak kalah kontroversial.

Di industri pangan, BTP merupakan singkatan dari 'Bahan Tambahan Pangan'. Bahan pengawet dan pemanis termasuk di antaranya. Nah, kebayang kan? Pengawet dan pemanis makanan selalu dipandang sebagai 'racun' yang membahayakan oleh sebagian orang.

Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Ir Ahmad Sulaeman, MS, PhD, menjelaskan bahwa BTP ditambahkan bukan tanpa tujuan. Tanpa pengawet misalnya, makanan jadi cepat rusak, bikin dodol jadi cepat jamuran. Karena itulah, digunakanlah BTP untuk mengawetkan.

"Tentunya tidak bisa sembarang BTP, harus yang sudah dikaji keamanannya," jelas Prof Ahmad, ditemui di kawasan Sentul, Bogor, Kamis (24/1/2019).


Ia menuturkan sebenarnya dari zaman nenek moyang pun BTP sudah digunakan. Misalnya mengawetkan daging dengan pemberian garam, atau pemberian kunyit yang selain untuk menambah warna juga untuk membantu mengawetkan.

"Cuma bedanya dulu menggunakan BTP alami, pakai gula, garam, asam, rempah-rempah dan sebagainya. Sekarang diteliti, dicoba, ada kelemahan. Kalau menggunakan btp alami misal daun suji, waktu dimasak berubah warnanya enggak hijau benar, cepat hilang, makanya dicoba menggunakan pewarna buatan tapi itu yang harus telah mengalami pengujian," tambah Prof Ahmad.

Contoh lain adalah pengunaan micin atau MSG (monosodium glutamat) yang kerap menjadi perdebatan. Padahal, micin sendiri ada juga yang dibuat secara alami dan bisa memberikan cita rasa yang umami. Maka dari itu tidak bisa dipukul rata untuk pembahasan BTP itu sendiri.

Jadi bahaya tidak, Prof?

"Bahaya atau tidaknya tergantung aturannya, kita bisa menaati nggak? Makanya ada namanya batas maksimum penggunaan, tergantung nilai ADI-nya, kalau ditambahkan dibawah itu tidak menimbulkan efek apa-apa. Makanya ada BTP yang tergolong ada maksimum penggunaanya dan ada yang tidak atau secukupnya," tandasnya.





Simak juga video 'Momen Saat Ahok-Djarot 'Reunian':

[Gambas:Video 20detik]


Bukan Ahok Sih, Tapi 'BTP' yang Ini Juga Banyak Kontroversinya
(ask/up)