Rabu, 06 Feb 2019 09:01 WIB

Selain Berobat Medis, Sutopo Sempat Coba Ruqyah dan Herbal

Rosmha Widiyani - detikHealth
Sutopo sempat coba ruqyah dan herbal untuk obati kanker paru. Foto: Ari Saputra Sutopo sempat coba ruqyah dan herbal untuk obati kanker paru. Foto: Ari Saputra
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
Jakarta - Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho masih ingat rasanya saat menerima hasil pemeriksaan kanker pada Desember 2017. Sempat down, Sutopo harus menghadapi kenyataan sedang menghadapi kanker paru stadium IV B. Sutopo harus berkejaran dengan sel kanker yang terus menyebar ke seluruh tubuhnya.

Sutopo sempat mencoba ruqyah di salah satu pondok pesantren di Malang, Jawa Timur atas ajakan salah satu temannya. Sebelumnya Sutopo menerima nasihat yang berhasil melegakan perasaan dan emosinya. Sutopo sempat tidak menerima kenyataan dirinya mengalami kanker yang telah berada di stadium lanjut. Nasihat dari seorang ulama tersebut berhasil mencerahkan dan membantunya berpikir positif.

"Dari situ saya masuk ponpes selama 2 minggu. Tapi di sana makannya susah jadinya segala pantangan dikonsumsi, misal nasi putih dan gorengan. Jadinya kondisi saya menurun dan harus segera kembali ke Jakarta. Dari situ saya langsung menjalani perawatan medis karena ada cairan di paru-paru. Saya juga mulai mengurangi aktivitas ke luar kota dan menggunakan antinyeri yang mengandung morfin supaya bisa tidur dan beraktivitas," kata Sutopo pada detikHealth.



Sutopo mengatakan, dia percaya upaya medis untuk penyembuhan kanker. Upaya medis dengan radiasi, kemoterapi, dan operasi memungkinkan penyembuhan lebih cepat. Sebagai penyintas, kanker bukan satu-satunya yang dihadapi Sutopo. Dia harus menghadapi efek pengobatan dan metastase kanker yang telah sampai tulang. Teknologi medis menyediakan peluang berkejaran dengan upaya penyembuhan kanker dan akibat penyertanya.

Namun, Sutopo bukannya antipati terhadap pengobatan herbal. Sutopo yakin herbal bisa memperkuat tubuhnya menjalani pengobatan medis yang telah diresepkan dokter. Tentunya Sutopo tidak asal minum obat herbal tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dulu. Tanpa pengaturan yang tepat, zat aktif dalam obat herbal dan medis bisa bersifat saling menghilangkan atau menguatkan. Efeknya kerap tidak baik bagi kemajuan pengobatan pasien kanker. Dokter bisa membantu menyarankan dosis dan frekuensi minum obat yang tepat.

Terkait upaya datang ke 'orang pintar,' Sutopo sempat melakukannya beberapa kali. Selain ke Malang, Sutopo sempat ke Semarang, Solo, Bandung, dan Tegal. Sutopo menyerahkan pada tiap orang untuk percaya atau tidak dengan hal tersebut, namun dia sendiri tidak merasakan efeknya. Kendati begitu, Sutopo tidak memandang sebelah mata penyintas kanker yang memilih metode tersebut. Penyintas kanker pasti akan mencoba berbagai pengobatan supaya bisa segera sembuh.


Tonton video: Eksklusif! Perjuangan Sutopo Melawan Kanker Paru Stadium 4B

[Gambas:Video 20detik]



"Penyintas kanker harus mencoba berbagai hal demi kesembuhan. Kita jangan sampai menyerah selama menjalani pengobatan. Mau medis atau alternatif, keduanya adalah perantara untuk kesembuhan. Selain terus terapi, jangan lupa berpikir positif karena pola pikir ikut menentukan keberhasilan penyembuhan. Saya sudah putuskan tidak menyerah, sehingga proses yang bagaimana pun akan dijalani," kata Sutopo.

Sutopo tak menampik jika bayangan kematian terus menghampiri dan menurunkan motivasinya. Namun manusia tak bisa campur tangan terkait kematian, yang hanya bisa berupaya sebaik-baiknya. Dengan keyakinan tersebut, Sutopo akan berusaha yang terbaik melawan kanker sambil tetap menyebarkan info soal bencana.





Tonton video wawancara 'Eksklusif! Perjuangan Sutopo Melawan Kanker Paru Stadium 4B':

[Gambas:Video 20detik]


Selain Berobat Medis, Sutopo Sempat Coba Ruqyah dan Herbal

(up/up)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
News Feed