Rabu, 06 Feb 2019 12:02 WIB

Seperti Pasien Kanker Lain, Sutopo Juga Mengalami Repotnya Antre Berobat

Rosmha Widiyani - detikHealth
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho (Samsudhuha/detikcom) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho (Samsudhuha/detikcom)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
Jakarta - Satu tahun bergelut dengan kanker paru stadium IV B yang menyebar ke seluruh tubuh memang bukan hal mudah. Namun Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho membuktikan, bekerja sambil tetap menjalani pengobatan adalah hal yang mungkin. Salah satu masalah yang dirasakan Sutopo yang masih menjalani pengobatan adalah dilema pembiayaan pengobatan.

Sutopo pernah merasakan pelayanan dengan dan tanpa jaminan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hasilnya, Sutopo tahu benar kekurangan dan kelebihan dari dua versi pelayanan tersebut. Secara garis besar, pelayanan dengan BPJS Kesehatan sangat meringankan beban ekonomi masyarakat yang sedang sakit. Namun masyarakat harus menghadapi kualitas pelayanan yang serba terbatas, berbeda dengan yang membayar sendiri.

"Kita harus nunggu 2 bulan untuk radiasi jika pakai BPJS Kesehatan. Untuk pasien kanker yang selalu berkejaran dengan pertumbuhan sel, waktu tunggu ini sangat lama yang berisiko bagi penyembuhannya. Kita beruntung tinggal di Jakarta dengan banyak rumah sakit yang bisa melayani radiasi, namun bagaimana dengan yang di luar kota. Sebaiknya harus ada perbaikan pelayanan kesehatan terutama bagi pasien yang rentan, supaya waktu tunggu pemeriksaan dan pelayanan lain tidak terlalu lama," kata Sutopo pada detikHealth, Senin (4/2/2019).



Dengan kondisinya saat ini, Sutopo butuh keleluasaan untuk berkonsultasi seputar perkembangan penyakit dan pengobatannya hingga tuntas. Seluruh hasil pemeriksaan harus diperiksa dengan cermat, sebelum memutuskan obat yang harus dikonsumsi atau jenis terapi yang harus dilakukan. Namun mahalnya biaya terapi dan obat tidak sejalan dengan kantong pasien yang makin tipis.

Sejak dinyatakan positif kanker pada Desember 2017 hingga kini, Sutopo memperkirakan sudah menghabiskan biaya pengobatan lebih dari Rp 500 juta. Sutopo yang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto sempat mendapat terapi Trans Arterial Chemo Infusion (TACI). Menurut Sutopo, terapi ini mirip Digital Subtraction Angiography (DSA) dengan memasukkan sejenis kateter ke dalam tubuh. Dengan metode yang bertujuan meningkatkan efektivitas pengobatan ini, kateter akan mencari sel kanker induk di dalam tubuh. Setelah ketemu, obat kemo akan langsung disemprotkan ke sel kanker induk dengan harapan pertumbuhannya segera berhenti.

Dokter menyarankan TACI sebanyak 6 kali, namun Sutopo berhenti saat terapi baru dijalankan 2 kali. Selain tidak mendapati kemajuan penyembuhan, Sutopo harus mengeluarkan biaya Rp 90 juta dan Rp 80 juta untuk TACI. Atas saran dokter, Sutopo akhirnya memilih pengobatan dengan radiasi, kemoterapi lewat infus, dan operasi bila diperlukan. Untuk kemoterapi yang berlangsung 10 jam, Sutopo harus mengeluarkan biaya Rp 23 juta yang kadang belum termasuk obat-obatan. Sedangkan untuk radiasi, Sutopo telah 32 kali melakukanya dan kini tidak lagi diresepkan dokter.
Tidak ada gunanya mengeluh karena justru menambah rasa sakit. Seluruh proses pengobatan ini harus dilalui jika ingin membaik atau tidak bertambah buruk. Sutopo Purwo Nugroho - Warrior Kanker Paru Stadium 4B

Saat ini, sebagian pembiayaan terapi masih ditanggung Sutopo sendiri. Namun selanjutnya tak menutup kemungkinan dirinya memilih menggunakan BPJS Kesehatan seutuhnya. Hal ini akan meringankan Sutopo yang masih harus membeli sendiri obat lain yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Misal plester dengan kandungan zat antinyeri morfin yang harganya bisa mencapai Rp 500 ribu per bungkus. Plester ditempelkan di bagian tubuh yang sakit usai kemoterapi selama 3 hari. Efek antinyeri dalam plester biasanya akan hilang 2-3 hari usai dilepas.



Sama seperti pasien lain, Sutopo harus bergelut dengan lamanya antrean BPJS Kesehatan yang terkadang tak sebanding dengan pelayanan. Durasi pelayanan kurang dari 5 menit sedangkan antre bisa dari pagi hingga sore. Sutopo menilai kondisi ini tidak baik untuk pasien yang sudah stres dengan pengobatan apalagi yang terus dibayangi kematian. Hal ini juga tidak baik bagi pasien yang kondisinya kritis atau perlu pengobatan secepatnya. Sutopo mengumpamakan kondisi ini layaknya kelompok masyarakat yang rentan menjadi korban bencana yaitu ibu hamil, lansia, anak, dan disabel yang harus segera ditolong.

"Saya anggap ini perjuangan karena memang kondisinya seperti itu. Saat antre, saya sering ketemu pasien lain yang juga sedang sakit dan saling menyemangati. Saya juga sering foto bareng dengan pasien, suster, atau dokter. Tidak ada gunanya mengeluh karena justru menambah rasa sakit. Seluruh proses pengobatan ini harus dilalui jika ingin membaik atau tidak bertambah buruk," kata Sutopo.

Dengan tekad tersebut, Sutopo akan melanjutkan pengobatan melawan kanker. Tentunya dengan tidak melupakan tugas sebagai pembawa informasi seputar masalah kebencanaan. Sutopo berharap tekad serupa bisa dimiliki penyintas kanker lainnya, sedangkan yang sehat bisa lebih menghargai kondisinya saat ini.



Bagaimana perjuangan Sutopo melalui itu semua? Berikut ini detikHealth menghadirkan video wawancara eksklusif dengan sang pejuang kanker.

[Gambas:Video 20detik]



(up/up)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia