Jumat, 08 Feb 2019 15:06 WIB

Punya Pacar Kasar, Kok Masih Banyak yang Bertahan?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Punya pacar kasar, entah main tangan atau bicara kasar mungkin pernah dialami oleh sebagian orang. Tapi kok masih ada yang bertahan ya? Ini kata psikolog. Foto: Edi Wahyono Punya pacar kasar, entah main tangan atau bicara kasar mungkin pernah dialami oleh sebagian orang. Tapi kok masih ada yang bertahan ya? Ini kata psikolog. Foto: Edi Wahyono
Jakarta - Punya pacar kasar, entah main tangan atau bicara kasar mungkin pernah dialami oleh sebagian orang. Sedikit-dikit, larang untuk pergi ke sana ke mari. Besoknya lagi kalau sedang tidak punya uang, memaksa pacarnya untuk pinjam uang tanpa dikembalikan lagi.

Kok masih bisa ya seseorang bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas merugikan?

"Banyak perempuan yang merasa ingin menjadi pahlawan, misalnya meyakini bahwa dirinya bisa menenangkan si pacar yang sangat emosional ini," kata Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psikolog, Psikolog anak dan keluarga dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.

"Padahal mungkin saja dia juga kena banyak efek buruknya. Banyak juga perempuan yang mengira bahwa itulah bentuk kasih sayang, saat seseorang terus mengikat dirinya, padahal yang namanya sayang itu menghormati, loh," tambahnya.


Melalui pesan singkat, Talissa Carmelia, MPsi, Psikolog dan Linda Setiawati, MPsi, Psikolog dari Personal Growth turut menjelaskan sejumlah hal yang bisa melatarbelakangi seseorang tetap bertahan dalam hubungan percintaan penuh kekerasan. Di antaranya:

1. Rasa cinta: merasa pasangan mencintai dirinya dan tidak ada orang lain yang bisa menyayanginya seperti pasangan.
2. Bingung antara kekerasan dan abuse dengan cinta karena belum memiliki banyak pengalaman menjalin hubungan
3. Keyakinan bahwa ia mampu mengubah sifat pasangannya, padahal biasanya kondisi bisa semakin memburuk
4. Janji dari pasangannya bahwa mereka akan berhenti dan meminta maaf, dan mereka percaya dengan janji tersebut.
5. Rasa takut dan bersalah karena merasa kondisi ini terjadi karena kesalahan mereka.
6. Rasa takut akan disakiti jika meninggalkan pasangannya
7. Rasa takut akan sendirian, sehingga mereka memilih untuk tetap bertahan pada hub toxic, yang penting mereka tidak perlu merasa sendirian

(ask/up)
News Feed