Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Haryono, B20 dan B100 sebetulnya sama-sama lebih aman bagi lingkungan. Dampak polusi yang ditanggung warga dan lingkungan tidak seberat pada penggunaan solar.
"Kandungan zat pengotor pada biodiesel, misal sulfur dan logam berat, tidak sebanyak pada solar. Hasilnya gas COX, NOx, dan H2S yang dihasilkan dari proses penggunaan bahan bakar tidak sebanyak pada penggunaan solar. COX, NOx, dan H2S adalah contoh gas yang menyebabkan polusi," kata Agus pada detikHealth, Senin (18/02/2019).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biodiesel yang digunakan dalam B20 dan B100 di Indonesia berasal dari pengolahan kelapa sawit. Sebagai minyak nabati, biodiesel adalah contoh sumber daya yang diperbarui (renewable energy). Artinya, zat buangan yang dihasilkan selama penggunaan biodiesel bisa digunakan kembali dalam kehidupan.
Penggunaan B20 dan B100 diharapkan bisa menekan dampak polusi bagi kesehatan dan kehidupan masyarakat secara umum. Saat ini, polusi menjadi musuh utama banyak kota besar di Indonesia. Salah satu dampak polusi adalah munculnya gangguan pernapasan, serta meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit misal kanker.











































