Selasa, 19 Feb 2019 19:26 WIB

Difteri: Penyebab, Gejala, Obat, dan Cara Mencegahnya

Firdaus Anwar - detikHealth
Ruang isolasi pasien difteri di salah satu rumah sakit di Garut. (Foto: Hakim Ghani) Ruang isolasi pasien difteri di salah satu rumah sakit di Garut. (Foto: Hakim Ghani)
Jakarta - Difteri adalah penyakit infeksi bakteri yang beberapa kali menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Penyakit ini sudah dideskripsikan sejak abad ke-5 sebelum masehi oleh para ilmuwan Yunani dan menjadi penyebab kematian terbanyak pada anak-anak.

Konsultan penyakit infeksi Dr dr Hindra Irawan Satari, SpA(K), dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menjelaskan difteri mematikan karena membentuk selaput di saluran napas. Dampaknya seorang anak akan jadi kesulitan atau bahkan tidak bisa bernapas.

Selain itu bakteri difteri juga memproduksi toksin yang dapat merusak jantung, ginjal, dan saraf memicu komplikasi.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa fakta yang perlu kamu tahu tentang difteri:

1. Penyebab difteri

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Corynebacterium Diphteriae pertama kali diidentifikasi oleh ilmuwan bernama F. Loeffler sekitar tahun 1880. Bakteri difteri ini bisa menyebar lewat droplet (percikan halus liur) hingga kontak fisik langsung.

Percikan air ludah yang berterbangan saat penderita berbiĀ­cara, batuk atau bersin membawa serta kuman-kuman difteri. Apalagi lingkungan yang kotor bisa menyebabkan difteri lebih mudah lagi menyerang anak-anak.

2. Gejala difteri

Gejala penyakit difteri dijelaskan oleh spesialis anak dr Arifianto, SpA, yang berpraktik di Kramat Jati mulai dari yang ringan seperti demam, batuk, pilek, akibat adanya pembengkakan pada tenggorokan. Biasanya gejala difteri muncul 2-5 hari setelah terinfeksi.

Setelah itu ciri khas dari difteri adalah terbentuknya selaput tipis berwarna putih ke abu-abuan di tenggorokan.

3. Obat difteri

Untuk mengobati difteri dokter biasanya akan memberikan dua jenis obat yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri. Sebagian besar pasien dapat keluar dari ruang isolasi setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 hari, tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan konsumsi antibiotik sesuai anjuran.

Sementara itu antitoksin diberikan untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Apabila terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.

4. Pencegahan difteri

Untuk mencegah penyebaran difteri terdapat vaksin yang dapat diberikan terutama bagi anak-anak dan lansia karena dianggap paling rentan. Namun demikian semua orang umur berapapun dianjurkan untuk mendapat vaksin difteri karena penyakit bisa menyerang siapa saja.

"Penyakit difteri tidak memandang usia, dewasa pun juga bisa kena," ungkap dr Mohammad Subuh yang pada tahun 2017 lalu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan. (fds/up)